Pasien COVID-19 di Surabaya Alami Fenomena Aneh, Tanda Munculnya Varian Baru?
AFP/JIJI
Nasional

RSLI Surabaya, Jawa Timur mewaspadai fenomena aneh yang dialami sejumlah pasien COVID-19. Sebab nilai CT Value mereka tetap rendah bahkan setelah 10-12 hari dirawat.

WowKeren - Wabah COVID-19 di Indonesia memang boleh dibilang sudah melandai. Namun Indonesia tetap mewaspadai masuknya varian-varian baru virus Corona, termasuk Mu.

Pedoman itulah yang membuat Tim Medis di Rumah Sakit Darurat COVID-19 Surabaya alias RS Lapangan Indrapura (RSLI) mewaspadai temuan fenomena aneh terhadap salah satu pasiennya. Pasien tersebut merupakan bagian dari kelompok Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang baru pulang ke Jawa Timur.

Penanggung Jawab RSLI, Laksamana Pertama dr Ahmad Samsulhadi menjelaskan terdapat seorang pasien yang nilai CT Value-nya sangat rendah, yakni di kisaran 1,8. "Kami menemukan nilai CT Value 1,8 pada satu pasien," tutur Samsulhadi, Rabu (8/9).

Sebagai informasi, CT Value alias cycle threshold value adalah nilai yang menunjukkan risiko seorang pasien COVID-19 bisa mengalami komplikasi atau gejala berat. Angka ini biasanya muncul saat pemeriksaan PCR, yang sekaligus menentukan apakah seseorang masih positif atau sudah negatif infeksi COVID-19.


Hasil yang rendah, menurut Samsulhadi, memicu kekhawatiran merupakan tanda-tanda varian baru virus Corona. Tim pun berkali-kali melakukan tes PCR kepada pasien terkait, bahkan sampai 12 hari setelah yang bersangkutan dirawat, namun angka CT Value-nya tetap di 1,8.

Nilai CT Value yang rendah ini ternyata juga ditemukan pada sejumlah pasien PMI lain, bahkan hingga hari ke-10 mereka dirawat. "Nilai CT Value-nya masih di bawah 15. Karena fenomena yang aneh, saya sudah meminta dr Fauqa untuk menindaklanjuti," kata Samsulhadi.

Dokter Penanggung Jawab Pelayanan RSLI, Fauqa Arinil Aulia, juga membenarkan soal temuan pasien-pasien COVID-19 dengan angka CT Value rendah ekstrem tersebut. Padahal selama ini biasanya pasien COVID-19 yang sudah dirawat nilai CT Value-nya akan naik secara bertahap dan membaik jelang pekan kedua dirawat.

"Padahal teorinya, pada varian lain, progresnya baik, CT Value naik. Bahkan hari ke 13 sudah negatif. Sedangkan sekarang ini kok malah kebalikannya, minggu kedua seperti mulai kembali terserang, dengan indikasi nilai CT Value yang masih rendah, di bawah 25 bahkan di bawah 5," terangnya.

Karena itulah, pihak RSLI terus mengawasi fenomena aneh tersebut sembari mewaspadai peluang masuknya varian Mu. Kendati demikian, Fauqa juga menjelaskan bahwa varian Mu tidak perlu terlalu dikhawatirkan apabila dibandingkan dengan varian Delta misalnya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts