Jadi Wilayah PPKM Level 1, Satgas Ungkap Kasus COVID-19 Kota Blitar Hanya 6,26 per 100.000 Penduduk
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Juru Bicara Rumpun Kuratif Satgas Penanganan COVID-19 Jawa Timur, dr Makhyan Jibril Al Farabi, juga mengungkapkan bahwa kapasitas respons COVID-19 di Kota Blitar dinilai telah memadai.

WowKeren - Kota Blitar di Jawa Timur menjadi satu-satunya wilayah berstatus Level 1 dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali. Pemerintah menerapkan uji coba new normal karena Kota Blitar dinilai telah memenuhi syarat indikator WHO dan target vaksinasi COVID-19.

"Alhamdulillah Kota Blitar ini masuk dalam asesmen Level 1, maupun dari Inmendagri," tutur Juru Bicara Rumpun Kuratif Satgas Penanganan COVID-19 Jatim dr Makhyan Jibril Al Farabi kepada CNN Indonesia, Senin (11/10).

Lebih lanjut, Makhyan menjelaskan bahwa transisi komunitas di Kota Blitar berdasarkan penilaian Kementerian Kesehatan telah mencapai tingkat 1. Menurutnya, kasus konfirmasi COVID-19 di Kota Blitar bahkan hanya mencapai 6,26 per 100 ribu penduduk per pekan.

"Kasus konfirmasi hanya 6,26 per 100 ribu penduduk per minggu, rawat inapnya hanya 2,09 per 100 ribu penduduk per minggu, dan kematiannya hanya 0,70 per 100 ribu penduduk per minggu," paparnya.

Adapun kapasitas respons COVID-19 di Kota Blitar juga dinilai telah memadai. Indikator 3T (tes, tracing, treatment) di Kota Blitar juga diklaim makin membaik dan telah sesuai dengan standar WHO.


"Testing-nya sudah mencapai 72 persen, tracing ratio-nya sudah 23,20 persen dan BOR (tingkat hunian RS)-nya hanya 5,73 persen. Ini yang mengakibatkan Kota Blitar masuk dalam assesmen level 1," terangnya.

Selain itu, Kota Blitar juga telah memenuhi syarat vaksinasi COVID-19 seperti yang tercantum dalam Inmendagri. Berdasarkan aturan tersebut, target cakupan vaksinasi COVID-19 dosis pertama minimal 70 persen dan vaksinasi lansia 60 persen.

"Kota Blitar sudah mencapai vaksinasi 99,79 persen untuk dosis 1, dan untuk vaksinasi lansia sudah mencapai 67 persen," ungkapnya.

Kota Blitar yang tak masuk dalam wilayah aglomerasi juga dinilai Makhyan sebagai suatu kelebihan hingga membuatnya bisa ditetapkan berstatus Level 1. Namun, Makhyan menegaskan bahwa penerapan uji coba new normal di Kota Blitar harus disertai oleh monitoring dan pengawasan ketat untuk menghindari terjadinya lonjakan kasus.

"Ini tetap kami harus monitoring ketat, karena dengan penerapan uji coba new normal PPKM ini apakah indikator faktor-faktor kesehatan ini tetap bisa dipertahankan ataukah ada lonjakan," pungkasnya.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts