Waspada Gelombang Ketiga COVID-19 RI, Ini 7 Pemicunya Menurut Ahli
AP Photo/Achmad Ibrahim
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Ketua Pelaksana Program Pendampingan Keluarga Pasien COVID-19 RSLI, Radian Jadid mengungkap 7 pemicu gelombang ketiga wabah virus Corona yang harus diwaspadai.

WowKeren - Pengendalian wabah COVID-19 di Indonesia memang berangsur-angsur membaik. Meski demikian, pakar kesehatan berkali-kali mengingatkan soal potensi gelombang ketiga wabah COVID-19 yang bisa datang pada akhir 2021 atau awal 2022.

Perihal prediksi ini ternyata diamini oleh Ketua Pelaksana Program Pendampingan Keluarga Pasien COVID-19 RSLI, Radian Jadid. Karena itulah, untuk meminimalisir dampak dan risiko yang ditimbulkan, diperlukan kewaspadaan terutama terhadap 7 hal yang bisa memicu terjadinya gelombang ketiga wabah COVID-19.

Yang pertama, menurut Jadid, adalah karena kondisi masyarakat yang terpapar COVID-19 namun enggan melaporkan diri serta tidak ke fasilitas kesehatan terdekat. "Mereka memilih diam-diam dan melakukan isolasi mandiri tanpa pendampingan dan pengawasan yang memadai. Apabila tidak dilakukan proses 3T, maka potensi menjadi pemicu klaster baru (keluarga) akan tinggi," ujar Jadid kepada Basra jaringan Kumparan, Rabu (13/10).

Lalu pemicu kedua adalah karena salah persepsi serta pemahaman terkait peran vaksin dalam penanggulangan wabah COVID-19. Masyarakat berpikir vaksin bisa memberi perlindungan 100 persen terhadap virus Corona, sehingga jadi melonggarkan bahkan mengabaikan protokol kesehatan yang ada.

Kemudian pemicu ketiga adalah pembukaan tempat hiburan umum, perbelanjaan, serta dimulainya pembelajaran tatap muka (PTM). "Bila tidak dikelola dan diawasi dengan baik, akan menjadi potensi besar kembalinya penularan COVID-19," sambungnya.

Poin keempat adalah kemungkinan dibukanya kembali pintu kedatangan Pekerja Migran Indonesia (PMI). Dalam konteks di Surabaya Raya, Bandara Juanda mungkin akan membuka kembali pintu kedatangan PMI pada pertengahan Oktober atau awal November 2021.


Padahal berdasarkan data, setidaknya 5-10 persen PMI terpapar COVID-19. "Diperkirakan masih ada sekitar 20-30 ribuan PMI yang akan masuk atau pulang ke Indonesia," lanjutnya.

Jadid juga menyoroti soal atlet dan ofisial PON XX Papua yang kembali namun enggan menjalani karantina penuh selama 8 hari. Belum dengan pejabat daerah yang sempat melakukan perjalanan ke PON XX Papua. "Mereka tentunya juga berinteraksi dan bersosialisasi di ajang PON, sampai sekarang sudah terkonfirmasi 57 orang yang terpapar COVID-19," tutur Jadid.

Lalu pemicu keenam adalah pelonggaran pembatasan di berbagai daerah terutama yang sudah memasuki Level Asesmen 1. Situasi ini diperburuk karena Indonesia memasuki musim penghujan yang secara alamiah menjadi lahan subur perbanyakan virus Corona.

"Juga hal yang alamiah bahwa virus akan melakukan perubahan dari yang lambat hingga ekstrim (mutasi) untuk menyesuaikan diri mempertahankan hidup. Karenanya varian baru sangat memungkinkan muncul pada kondisi tersebut," kata Jadid. "Maka perkiraan para ahli bahwa bulan Desember merebak lagi menjadi beralasan."

Sedangkan pemicu terakhir adalah vaksinasi COVID-19 yang masih banyak menyasar kota besar dan kalangan tertentu saja. Sedangkan hingga 10 Oktober 2021, baru sekitar 27,57 persen dari target sasaran yang sudah divaksin.

"Angka ini tentunya masih jauh dari angka 70 persen syarat herd immunity bisa dijalankan. Selama pandemi COVID-19 oleh pemerintah belum dinyatakan selesai, maka potensi tersebut akan naik masih cukup besar," tandasnya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts