Siap-Siap! Indonesia Akan Setop Jual Mobil dan Motor Pakai Bensin, Ini Bocorannya
Panoramio/Akhmad Fauzi
Nasional

Indonesia sudah berkomitmen untuk ikut berkontribusi dalam mengurangi emisi karbon. Karena itulah Indonesia siap menyetop penjualan kendaraan bermotor berbahan bakar bensin.

WowKeren - Indonesia terus berkomitmen untuk menyediakan energi yang lebih ramah lingkungan untuk jangka panjang. Bahkan Indonesia punya target nol emisi karbon atau net zero emission (NZE) pada 2060.

Karena itulah, Indonesia tak ragu untuk menghentikan penjualan kendaraan bermotor dengan bahan bakar bensin. Hal ini sebagaimana disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif yang sekaligus memberi bocoran kapan kira-kira kebijakan tersebut akan direalisasikan.

Rupanya kebijakan ini siap dilakukan tahun 2040 mendatang, atau sekitar 19 tahun dari sekarang. Selain menyetop penjualan kendaraan bermotor berbahan bakar bensin, Indonesia juga punya sejumlah target lain.

"Di tahun 2040, bauran EBT sudah mencapai 71% dan tidak ada PLT Diesel yang beroperasi," ujar Arifin dalam siaran persnya, Kamis (14/10). "Lampu LED 70%, tidak ada penjualan motor konvensional, dan konsumsi listrik mencapai 2.847 kWh/kapita."


Namun tentu saja langkah ini tidak dilakukan "ujug-ujug" melainkan bertahap mulai dari tahun ini. "Kami telah menyiapkan peta jalan transisi menuju energi netral mulai tahun 2021 sampai 2060 dengan beberapa strategi kunci," kata Arifin.

Ada lima prinsip yang akan diwujudkan Indonesia terkait target tersebut. Yakni peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT), pengurangan energi fosil, kendaraan listrik di sektor transportasi, peningkatan pemanfaatan listrik pada rumah tangga dan industri, dan pemanfaatan Carbon Capture and Storage (CCS).

Untuk tahun 2021, regulasi yang dibuat adalah berupa Peraturan Pemerintah terkait EBT dan retirement coal. "Tidak ada tambahan PLTU baru kecuali yang sudah berkontrak maupun sudah dalam tahap konstruksi," jelas Arifin.

Lalu tahun 2022 akan fokus pada penggunaan kompor listrik di 2 juta rumah tangga per tahun. Tahun 2024 akan fokus pada pembangunan interkoneksi, jaringan listrik pintar (smart grid) dan smart meter. Lalu pada tahun 205 bauran EBT ditarget mencapai 23 persen, sedangkan tahun berikutnya adalah dominansi PLTS sampai 25 persen.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts