Kasus COVID-19 di Indonesia dan India Sama-sama Cepat Menurun, Ahli Ungkap Alasannya
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Pada Senin (15/11) kemarin, Indonesia bahkan mencatat kasus positif virus corona (COVID-19) harian terendah sepanjang tahun 2021, yakni sebanyak 221 kasus.

WowKeren - Kasus virus corona (COVID-19) di Indonesia telah mengalami penurunan signifikan sejak menyentuh puncak gelombang penularan pada bulan Juli 2021 lalu. Pada Senin (15/11) kemarin, Indonesia bahkan mencatat kasus COVID-19 harian terendah sepanjang tahun 2021, yakni sebanyak 221 kasus.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Tjandra Yoga Aditama lantas mengungkapkan situasi di Indonesia serupa dengan India. Dimana kasus COVID-19 kedua negara sama-sama relatif cepat melandai.

"Kita bersyukur angka kita turun tajam dan bertahan lama. Pada waktu kita belum kena, India terkena yang sama. India juga naik cepat sampai tinggi sekali, tiga bulan kemudian kita naik tinggi sekali. Relatif turunnya India cepat sekali, tapi Indonesia juga cepat sekali," ungkap Tjandra dalam webinar yang disiarkan di kanal YouTube Kementerian Kesehatan. "Dan sampai sekarang baru kemarin berhubungan dengan teman di India, India juga menekan rendah walau tidak serendah kita."

Cepatnya penurunan kasus COVID-19 ini lantas menimbulkan pertanyaan mengingat cakupan vaksinasi kedua negara kala itu belum begitu besar. "Tentu ada beberapa teori yang bisa keluar begitu, tapi ini menunjukkan ada banyak hal yang masih harus kita pelajari," kata Tjandra.

Lebih lanjut, Tjandra mengungkapkan bahwa India melakukan tes antibodi pada penduduk di dua kota besarnya, yakni New Delhi dan Mumbai. Menurut Tjandra, New Delhi yang merupakan ibu kota India memiliki jumlah penduduk yang melebihi 10 juta jiwa, begitu pula dengan Mumbai yang merupakan pusat industri.


"Nah, di New Delhi itu baru keluar hasil penelitian tes antibodi, jadi masyarakat dites antibodi terhadap COVID-19 ini ya. 90 persen itu positif, walaupun hasilnya belum diumumkan resmi di jurnal internasional," paparnya. "Kemudian yang di Mumbai, 86 persen positif."

Dengan data India tersebut, Tjandra menilai antibodi alami menjadi salah satu faktor kasus COVID-19 di India berhasil ditekan. Hal tersebut dinilai bisa juga terjadi di Tanah Air.

Meski demikian, Tjandra berpesan agar semua pihak tetap mewaspadai pandemi karena banyaknya hal yang tak bisa diprediksi. Ia mencontohkan Singapura yang awalnya percaya diri menangani pandemi secara bertahap namun kini mengalami lonjakan kasus COVID-19.

"Jadi memang kita musti harus tetap waspada untuk kemungkinan (kenaikan kasus) libur Natal-Tahun Baru," tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa penurunan kasus positif Indonesia bisa terjadi karena 80 persen warga telah memiliki imunitas terhadap virus corona. Baik karena perlindungan vaksin, ataupun imunitas alami yang terbentuk pasca terinfeksi.

Pemerintah sendiri akan melakukan survei seroprevalensi dalam waktu dekat. Ini berguna untuk mengecek daerah yang selama ini tingkat tesnya minim. Dugaan mayoritas masyarakat Indonesia telah memiliki imunitas pun akan bisa dibuktikan benar atau salah melalui survei ini. Rencananya, Kemenkes akan bekerjasama dengan WHO dalam melakukan survei di 100 desa yang tersebar di 34 provinsi.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts