Lembaga AS 'Ramal' Indonesia Tak Terancam Gelombang Ketiga Wabah COVID-19, Ini Kata Epidemiolog
AFP/Adek Berry
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Beredar prediksi bahwa Indonesia akan menghadapi lonjakan kasus COVID-19 namun tidak akan seburuk puncak gelombang kedua pertengahan tahun 2021 kemarin. Apa kata pakar soal ini?

WowKeren - Lembaga Amerika Serikat IHME memprediksi Indonesia tidak akan "diamuk" gelombang ketiga wabah COVID-19. Skenario terburuk IHME menyebut Indonesia akan menghadapi hingga 28 ribu kasus COVID-19 pada Maret 2022 mendatang, yang tentu saja tidak lebih tinggi daripada puncak gelombang kedua kemarin.

Namun prediksi yang bisa dianggap kabar baik ini malah ditepis oleh Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman. Epidemiolog yang juga bergabung sebagai Panel Ahli Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tersebut menilai prediksi IHME sulit dipastikan karena saat ini Eropa tengah diterjang gelombang wabah baru.

Pasalnya beberapa bulan lalu IHME pernah memprediksi hal yang berkebalikan dengan yang dialami Eropa saat ini. "IHME sendiri juga tidak secara tepat memprediksi situasi Eropa saat ini, sekitar 2 atau 3 bulan lalu," kata Dicky kepada detikcom, Kamis (25/11).

"Bahkan kalau dilihat di website-nya pada September lalu, dia masih memprediksi bahwa akan terjadi penurunan kasus di Eropa Barat," imbuhnya. "Yang malahan kita lihat sekarang meningkat."


Dicky menegaskan bahwa situasi wabah COVID-19 sangat dinamis bergantung dengan sejumlah faktor. Malah seharusnya kebijakan yang dirumuskan tak melepaskan skenario terburuk.

"Karena kalau yang terburuk dianggap tidak akan terjadi, itu salah besar, berbahaya, dan akan akhirnya mengulang apa yang sudah dialami," jelas Dicky. "(Seperti) di Eropa sekarang, atau seperti gelombang kedua di Indonesia kemarin."

Dicky juga menyoroti soal temuan varian baru COVID-19 B.1.1.529 yang sedang menjadi ancaman di Afrika. Varian yang sampai membuat Inggris memasukkan 6 negara Afrika ke dalam red list ini diketahui memiliki banyak mutasi di protein durinya, bahkan lebih banyak daripada varian Delta.

Para peneliti Inggris cemas varian B.1.1.529 bisa menular lebih cepat ketimbang varian Delta, atau bahkan lebih resisten terhadap vaksin COVID-19. "Yang menjadi perhatian dari varian ini adalah ada mutasi yang bahkan paling banyak dari sekian varian yang timbul, ini merupakan varian yang memiliki mutasi terbanyak, ada 32 mutasi yang salah satunya terdeteksi di Cambridge, Inggris, oleh peneliti Inggris," pungkasnya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts