Inggris Masukkan 6 Negara ke Red List Imbas Varian COVID-19 B.1.1.529, WHO Buka Suara
Pixabay/Gerd Altmann
Dunia
Pandemi Virus Corona

Peneliti mengklaim varian B.1.1.529 sebagai varian COVID-19 terburuk yang pernah ada. Varian ini belakangan meluas di Afrika Selatan dan negara tetangga, memicu kekhawatiran global.

WowKeren - Para peneliti baru-baru ini mengemukakan kekhawatiran akan temuan varian baru COVID-19, B.1.1.529. Varian ini pertama ditemukan di Botswana, kemudian Afrika Selatan, dan yang terakhir di Hong Kong dari seorang pelaku perjalanan internasional.

Varian ini menjadi sorotan karena temuan banyaknya mutasi di protein durinya, yang memicu kekhawatiran virus menjadi lebih mudah menular hingga mudah mengelabui antibodi. Karena itulah, Inggris langsung mengambil sikap dengan memasukkan setidaknya 6 negara di selatan Afrika di daftar merah penerbangan internasional.

Keenamnya adalah Afrika Selatan, Botswana, Namibia, Lesotho, Eswatini, dan Zimbabwe. Langkah Inggris ini juga diikuti oleh Israel yang menambahkan Mozambique sebagai negara di daftar merah mereka.

"Kami hanya ingin melindungi perkembangan (pengendalian COVID-19) yang sudah kami buat. Peneliti kami sangat khawatir dengan varian ini. Saya juga khawatir tentu saja, itu satu alasan kami mengambil sikap seperti ini," tutur Menteri Kesehatan Inggris, Sajid Javid, Kamis (25/11).

Javid mengakui bahwa masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami karakteristik varian yang diklaim sebagai "yang terburuk yang pernah ada" ini. "(Tapi) dari yang kami mengerti sepanjang ini, ada sejumlah mutasi penting yang terjadi, mungkin sampai 2 kali lipat yang dijumpai di varian Delta. Hal ini membuat virus kemungkinan lebih mudah menular dan vaksin yang kita miliki sekarang tidak terlalu efektif melawannya," imbuh Javid.


Sikap tegas Inggris dan "kegaduhan" yang timbul akibat temuan varian B.1.1.529 juga menjadi sorotan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Panel WHO akan mengadakan pertemuan darurat pada Jumat (26/11) waktu setempat demi membahas varian B.1.1.529.

Meski demikian, Pimpinan Teknis COVID-19 WHO, Dr. Maria Van Kerkhove, mengingatkan bahwa tidak ada alasan bagi peneliti untuk sangat khawatir mengenai dampaknya terhadap diagnostik, terapi, atau vaksin. Sebab semua masih berproses mengingat varian B.1.1.529 tergolong baru ditemukan meski kini jumlah pasien yang terinfeksi semakin banyak.

Sampai sekarang, dituturkan Van Kerkhove, WHO belum menentukan apakah varian B.1.1.529 masuk variant of interest (VoI) atau bahkan variant of concern (VoC). Kalaupun dimasukkan ke daftar varian yang harus diwaspadai, WHO juga belum menentukan nama Yunani seperti Alpha dan Delta yang akan diberikan kepada B.1.1.529.

"Yang harus kita pahami, semakin sering virus bersirkulasi, semakin tinggi kemungkinannya bermutasi," tegas Van Kerkhove dalam sesi Q&A di Twitter. "Akan lebih banyak mutasi yang kita temukan."

WHO hanya mendorong masyarakat untuk lebih meningkatkan kewaspadaan dengan disiplin melakukan protokol kesehatan. Di sisi lain, masyarakat juga sebaiknya segera menerima dosis vaksin COVID-19 demi meminimalisir terjadinya gejala parah.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts