Kemenkes Sebut Varian COVID-19 Botswana Belum Masuk RI, Kedatangan WNA Dibatasi
Nasional
Mutasi Corona Masuk Indonesia

Pemerintah Indonesia saat ini tengah mewaspadai dan memperhatikan varian Botswana. Sebagai informasi, varian Botswana atau B.1.1.529 ini merupakan mutasi COVID-19 yang ditemukan di Afrika Selatan.

WowKeren - Baru-baru ini, ditemukan varian baru COVID-19 di Afrika Selatan (Afsel) yakni B.1.1.529 atau dikenal dengan nama varian Botswana. Varian ini disebut lebih menular dan berbahaya dibandingkan dengan varian COVID-19 lainnya. Maka dari itu, varian tersebut, saat ini tengah menjadi perhatian secara global.

Meski demikian, hingga saat ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan bahwa varian Botswana belum ditemukan atau masuk di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PL) Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi.

Lebih lanjut, Nadia mengungkapkan bahwa varian Botswana sudah menjadi perhatian pemerintah Indonesia lantaran potensi yang lebih menular. Meski demikian, langkah antisipasi yang dilakukan oleh pemerintah masih sama seperti sebelumnya.

Adapun langkah antisipasi di antaranya adalah dengan menerapkan pembatasan Warga Negara Asing (WNA) yang hendak masuk ke Indonesia. Nadia menuturkan sejauh ini, baru ada 19 negara yang diizinkan masuk ke Indonesia melalui Bandara Ngurah Rai, Bali.


Sebagai informasi, negara yang baru diizinkan untuk masuk ke Indonesia antara lain Saudi Arabia, United Arab Emirates, Selandia Baru, Kuwait, Bahrain, Qatar, Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan, Liechtensein, Italia, Perancis, Portugal, Spanyol, Swedia, Polandia, Hungaria, dan Norwegia. "Antisipasi kami masih sama," terang Nadia kepada CNNIndonesia.com, Jumat (26/11).

Varian Botswana juga disebut bisa mengurangi efektifitas vaksin COVID-19. Meski demikian, Nadia menegaskan bahwa pemerintah akan tetap melaksanakan percepatan vaksinasi COVID-19 kepada penduduk Indonesia.

Menurut Nadia, percepatan vaksinasi COVID-19 perlu dilakukan lantaran berhasil atau tidaknya mengendalikan situasi pandemi, itu juga menyangkut kekebalan bersama. Meski terjadi penurunan efektifitas vaksin, tetapi dengan terjadinya kekebalan bersama, maka bisa mencegah terjadinya mutasi atau penyebaran COVID-19.

Sementara itu, sebelumnya, ilmuwan di Afrika Selatan mendeteksi varian Botswana itu dan menyebutnya lebih menular karena lebih mudah menginfeksi sel manusia. Selain itu, varian tersebut juga dinilai memiliki setidaknya 10 mutasi. Jumlah ini disebut lebih banyak dibanding dengan mutasi dari varian Delta dan Beta.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts