Seperti yang diketahui, sebelumnya, varian Omicron disebut memiliki kekebalan terhadap antibodi pascavaksinasi COVID-19. Namun hal berbeda tampaknya disampaikan oleh IDI.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Sabtu, 18 Desember 2021 - 18:44 WIB
WowKeren - Sebelumnya, banyak peneliti yang menyebutkan bahwa COVID-19 varian Omicron kebal terhadap antibodi yang dibentuk melalui vaksinasi. Selain itu, varian ini juga disebut memiliki tingkat penyebaran yang tinggi.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M Faqih mengatakan bahwa efek vaksin COVID-19 terhadap varian Omicron saat ini masih bagus. Daeng lantas meminta kepada pemerintah untuk terus melakukan vaksinasi COVID-19 secara masif.
"Masih bagus, jadi karena masih bagus menahan ini (varian Omicron) dengan beberapa laporan dari Afrika Selatan, maka upaya vaksinasi harus terus kita lakukan," tutur Daeng dalam diskusi bertajuk "Heboh Omicron" yang disiarkan Radio Trijaya dan Kanal YouTube MNC Trijaya, Sabtu (18/12).
Lebih lanjut, Daeng lantas menuturkan bahwa varian Omicron di Afsel itu paling banyak menular kepada pasien COVID-19 yang belum divaksin. Akan tetapi, ada juga yang telah divaksin tetapi tertular varian Omicron.
"Mayoritas itu yang tidak divaksinasi lebih rentan kena sehingga memang fungsi vaksinasi ini harus tetap didorong secepatnya, kita sudah hampir 50%, mudah-mudahan akhir tahun bisa 50% lebih ya atau 60 persen," papar Daeng.
Sementara untuk para penyintas COVID-19, Daeng menyarankan mereka tetap melaksanakan vaksinasi. Pasalnya, penyintas tidak serta merta memiliki kekebalan tanpa divaksinasi.
"Kita tahu kemarin teman-teman yang terkena karena Delta, 80-90%," ungkap Daeng. "Laporan para pakar untuk yang terkena alamiah, tidak bisa dipastikan cross-imunitas, jadi kalau kena Delta secara alamiah tanpa divaksinasi berharap kebal juga Omicron itu kayaknya argumentasinya agak lemah, menurut pakar, tetap diharapkan dilakukan vaksinasi."
Sebelumnya, Daeng menuturkan bahwa varian Omicron yang ditemukan di Indonesia itu memiliki gejala yang ringan. Meski demikian, tingkat penyebarannya dinilai lebih cepat 5 kali lipat. Maka dari itu, ia meminta agar testing dan tracing bisa ditingkatkan, dan dilakukan secara masif, sembari melaksanakan percepatan vaksinasi COVID-19.
(wk/tiar)