Masyarakat Indonesia diketahui kerap kali menerima panggilan atau pesan dari nomor yang tidak dikenal. Hal ini tampaknya tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di dunia.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Selasa, 21 Desember 2021 - 09:32 WIB
WowKeren - Pesan elektronik atau SMS dan telepon dari orang tidak dikenal diketahui kerap kali terjadi kepada masyarakat. Bahkan dalam satu hari bisa menerima SMS dari orang tidak dikenal lebih dari satu kali.
Sementara itu, berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh aplikasi identifikasi telepon Truecaller pada pertengahan bulan Desember 2021, menunjukkan bahwa Indonesia menjadi negara dengan telepon spam terbesar ke 6 di dunia. Berdasarkan laporan Truecaller, Indonesia mencatat peningkatan lebih dari dua kali lipat volume panggilan spam mulai dari Januari hingga Oktober 2021.
Di bulan Januari lalu, total volume panggilan spam di Indonesia diketahui mencapai 12.580.275. Sementara selama Oktober 2021, jumlah telepon spam di Indonesia meningkat menjadi 25.789.283 panggilan.
"Rata-rata orang Indonesia menerima 14 panggilan spam per pengguna per bulan," bunyi pernyataan Truecaller dilihat dari Kumparan, Selasa (21/12). "Di Indonesia, sekitar 50 persen dari semua panggilan masuk yang diterima pengguna Trucaller berasal dari nomor yang tidak tersimpan di kontak telepon mereka."
Lebih lanjut, masih berdasarkan laporan dari Truecaller, di tahun 2021 ini, sebenarnya menunjukkan bahwa rata-rata panggilan telepon spam sedikit lebih baik dibandingkan dengan tahun 2020 lalu. Di tahun 2020, Trucaller menyebut bahwa rata-rata orang Indonesia menerima 18 panggilan telepon spam per bulannya.
Meski ada perbaikan, namun tak mengubah posisi Indonesia dari peringkat ke 6 negara dengan panggilan spam terbanyak di dunia, sekaligus tertinggi di Asia Tenggara. Selain itu, Indonesia juga masuk ke peringkat 20 besar negara dengan SMS spam terbanyak di dunia.
Untuk peringkat SMS spam terbanyak di dunia, Indonesia diketahui menduduki posisi ke 19, dengan rata-rata orang menerima sebanyak 6 pesan spam per bulan. "Data kami menunjukkan bahwa orang Indonesia menjadi target penipuan dengan meningkatkan tingkat teror komunikasi tidak diinginkan, menyebabkan jutaan pengguna smartphone di Indonesia berisiko menjadi korban penipuan," papar CEO dan Co Founder Truecaller, Alan Mamedi.
(wk/tiar)