Selain ada yang meninggal, sebanyak 5.000 WNI terdampak akibat banjir di Malaysia. Di sisi lain, Kemlu mengabarkan tidak ada WNI meninggal usai Topan Rai menerjang Filipina.
- Elvariza Opita
- Rabu, 22 Desember 2021 - 23:58 WIB
WowKeren - Malaysia tengah dihadapkan dengan salah satu bencana banjir terburuk yang dalam laporan terakhir telah menewaskan 27 orang. Nahasnya, salah seorang di antara korban tewas tersebut adalah WNI, demikian disampaikan oleh Kedutaan Besar Republik indonesia (KBRI) Kuala Lumpur.
Bukan hanya itu, sebanyak ribuan WNI pun sudah melapor memerlukan bantuan karena terdampak banjir yang terjadi. "Hingga saat ini diperkirakan sudah sekitar lebih dari 5.000 yang terdampak dan sudah sekitar 4.500 WNI yang terdaftar perlu bantuan," tutur Juru Bicara KBRI Kuala Lumpur, Yoshi Iskandar pada Rabu (22/12) malam kepada Liputan6.com.
Saat ini KBRI Kuala Lumpur terus berusaha untuk menyalurkan bantuan logistik, sembako, hingga perlengkapan mandi bagi para korban terdampak banjir. "Sejauh ini kondisi WNI tersebar diberbagai titik lokasi dan dilaporkan seorang WNI meninggal akibat banjir," lanjut Yoshi, meski tak mengungkap identitas WNI yang meninggal dunia akibat banjir yang terjadi.
KBRI Kuala Lumpur memastikan pihaknya terus bekerja sama dengan ormas dan paguyuban masyarakat Indonesia di Malaysia untuk membantu para WNI terdampak. Pengiriman bantuan yang diperlukan terus dilakukan sejak Sabtu (18/12) hingga Rabu hari ini.
Namun perlu diketahui bahwa Malaysia bukan satu-satunya negara tetangga Indonesia yang tengah mengalami bencana alam. Filipina pun tengah berduka setelah Topan Rai mengamuk beberapa waktu lalu.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana Filipina melaporkan Topan Rai sudah berdampak terhadap hampir satu juta orang, menyebabkan ratusan ribu di antaranya harus mengungsi. Topan Rai ini pun turut berdampak terhadap WNI yang bermukim di Filipina.
Meski demikian, Direktur Perlindungan WNI (PWNI) Badan Hukum Indonesia (BHI) Kementerian Luar Negeri, Judha Nugraha, mengklaim tidak ada WNI yang menjadi korban meninggal maupun luka akibat Topan Rai. "Hingga saat ini tidak terdapat informasi adanya korban jiwa maupun luka dari WNI yang tinggal di wilayah terdampak Topan Rai," kata Judha dalam keterangan yang diterima di Jakarta, dikutip dari ANTARA.
"Dalam data lapor diri KBRI Manila, tercatat 33 WNI menetap di wilayah Cebu," sambung Judha. KBRI Manila dan Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Davao pun terus menjalin komunikasi dengan otoritas Filipina dan simpul komunitas masyarakat Indonesia di Filipina untuk memantau dampak Topan Rai.
Sejauh ini, menurut Judha, kendala yang dialami WNI terdampak Topan Rai adalah akses listrik yang belum pulih di beberapa titik. Topan Rai sendiri perdana melanda Filipina pada Kamis (16/12) sore waktu setempat dan berlangsung selama tiga hari.
(wk/elva)