Kasus Omicron Meningkat, Pakar IDI Sentil Warga Masih Nekat Liburan ke Luar Negeri
AFP/Adek Berry
Nasional
Mutasi Corona Masuk Indonesia

Melalui unggahan di akun Twitter pribadinya, Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban menyinggung bahwa liburan ke luar negeri saat ini sangatlah tidak bijaksana.

WowKeren - Kasus COVID-19 varian Omicron sudah ditemukan di Indonesia dan jumlahnya semakin meningkat. Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban pun menyentil warga yang masih nekat liburan ke luar negeri.

Pada 8 Januari 2022, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa kembali ada tambahan kasus Omicron di Indonesia sebanyak 57 orang. Dengan begitu, total kasus Omicron di Indonesia saat ini menjadi 318 orang, terhitung per Jumat (7/1).

Lebih lanjut, Widyawati menuturkan bahwa penambahan 57 kasus Omicron itu terdiri dari 7 kasus transmisi lokal, dan 50 orang pelaku perjalanan dari luar negeri. Artinya, kasus Omicron yang meningkat di Indonesia kebanyakan dari pelaku perjalanan luar negeri.

Melalui unggahan di akun Twitter pribadinya pada 9 Januari 2022, Prof Zubairi menyinggung bahwa liburan ke luar negeri saat ini sangatlah tidak bijaksana. Ia juga mewanti-wanti tentang dampak akibat ledakan Omicron.


"Saya rasa tidak bijaksana melakukan perjalanan internasional yang tidak perlu saat ini. Jangan remehkan Omicron meski gejalanya ringan," tulis Prof Zubairi di unggahannya.

"Ketika kasus meledak, tetap saja rumah sakit akan penuh. Fasilitas kesehatan terganggu dan pembelajaran tatap muka 100 persen yang baru mulai bisa tertunda lagi," lanjutnya.

Menurut Widyawati, saat ini sebanyak 99 persen kasus Omicron yang diisolasi memang memiliki gejala ringan atau bahkan tanpa gejala (OTG). Kemudian, 4,3 persen di antaranya merupakan kasus memiliki komorbid seperti diabetes melitus dan hipertensi, serta 1 persen kasus membutuhkan terapi oksigen.

Di sisi lain, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi menuturkan bahwa pihaknya merekomendasikan perawatan berupa perubahan tata laksana pada pasien asimtomatik dan gejala ringan, seperti penambahan obat molnupiravir dan paxlovid untuk gejala ringan.

Meski gejalanya ringan, Prof Zubairi menekankan bahwa warga jangan pernah meremehkan kasus Omicron dengan pertimbangan rumah sakit bisa penuh jika kasus sampai meledak seperti tahun lalu.

(wk/chus)


You can share this post!

Related Posts