Menkes Izinkan Penerima Vaksin Sinovac Disuntik Booster Pfizer atau AstraZeneca
The Orange County/Jeff Gritchen
Nasional

Dalam 'mix and match' yang diatur BPOM sebelumnya, penerima dosis primer vaksin Sinovac direkomendasikan disuntik booster dengan merek yang sama atau heterologus Zifivax.

WowKeren - Presiden Joko Widodo sudah memutuskan vaksinasi COVID-19 dosis penguat alias booster dimulai Rabu (12/1) besok secara gratis. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa program booster ini merupakan komitmen pemerintah untuk melindungi seluruh masyarakat Indonesia dari ancaman COVID-19, termasuk berbagai variannya.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah mengatur "mix and match" untuk jenis booster yang bisa diterima mempertimbangkan merek vaksin primernya dulu. Salah satunya penerima vaksin primer Sinovac yang dianjurkan menerima booster dari produk yang sama, atau secara heterologus menggunakan Zifivax.

Namun ternyata ada opsi lain yang disediakan oleh pemerintah, sebagaimana disebutkan oleh Menkes. Dilansir dari laman resmi sehatnegeriku.kemkes.go.id, penerima vaksin primer Sinovac ternyata bisa menerima booster Pfizer atau AstraZeneca, seperti penjelasan berikut.


"Kombinasi vaksinasi booster yang akan diberikan mulai tanggal 12 Januari 2022 sesuai dengan pertimbangan para peneliti dalam dan luar negeri serta sudah dikonfirmasi oleh Badan POM dan ITAGI, antara lain," demikian kutipan penjelasan di laman resmi Kemenkes. "Untuk vaksin primer Sinovac atau vaksin dosis pertama dan kedua Sinovac akan diberikan vaksin booster setengah dosis Pfizer atau AstraZeneca."

Selain Sinovac, penerima dosis primer AstraZeneca juga bisa mendapat booster heterologus Moderna. "Untuk vaksin primer AstraZeneca atau vaksin dosis pertama dan kedua AstraZeneca akan diberikan vaksin booster setengah dosis Moderna," jelas Kemenkes.

"Ini adalah kombinasi awal vaksin booster yang akan kita berikan berdasarkan ketersediaan vaksin yang ada, dan juga hasil riset yang sudah disetujui oleh Badan POM dan ITAGI. Nantinya bisa berkembang tergantung kepada hasil riset baru yang masuk dan juga ketersediaan vaksin yang ada," imbuh Budi Gunadi.

Mantan Wakil Menteri BUMN tersebut menegaskan bahwa pemberian vaksin booster, baik secara homologus maupun heterologus, sudah mendapat persetujuan dari BPOM serta rekomendasi ITAGI. Kombinasi yang diberikan juga telah disesuaikan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait