Pakar Nilai Indonesia Akan Sulit Hindari Ledakan Kasus Omicron, Ingatkan Dampak Besar Ini
Nasional
Mutasi Corona Masuk Indonesia

Pada Rabu (12/1), Indonesia mencatat 66 kasus Omicron baru sehingga totalnya kini mencapai 572 kasus. 33 kasus dintaranya berasal dari pelaku perjalanan internasional dan 33 kasus lainnya merupakan transmisi lokal.

WowKeren - Indonesia diprediksi akan mengalami puncak kasus COVID-19 Varian Omicron pada awal Februari 2022 mendatang. Jumlah kasusnya bahkan diprediksi lebih tinggi dibanding puncak gelombang Varian Delta tahun lalu, meski jumlah pasien yang harus dirawat diperkirakan lebih sedikit.

Menurut epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, Indonesia akan sangat sulit menghindari ledakan kasus Omicron. Dicky memberikan contoh di Australia, merebaknya Varian Omicron membuat ada 20 ribu kasus baru setiap hari setidaknya dalam dua pekan terakhir.

"Sehari-hari 20 ribu sampai kolaps layanan kesehatan. Ini pelajaran buat Indonesia bahwa sekarang tenaga kesehatan berkurang karena banyak yang diisolasi karantina," ungkap Dicky dilansir detikcom, Kamis (13/1). "Bahkan saya mau beli makanan banyak yang habis karena suplai terganggu."

Dicky pun mengakui bahwa gejala Omicron lebih ringan dibandingkan Delta. Namun karena tingkat penularannya yang sangat tinggi, Dicky menegaskan bahwa Omicron bisa membawa dampak besar di masyarakat.


"Inilah menunjukkan betul Omicron ini memang 'less severe' daripada Delta atau kurang parah dari Delta. Dari dampak individu memang kurang nampak," paparnya. "(Namun) pada fasilitas kesehatan, dampak secara faktor sosial termasuk ekonomi ternyata jauh lebih besar daripada Delta."

Lebih lanjut, Dicky mengingatkan bahwa Omicron bisa menyebabkan jumlah orang-orang yang sakit mengalami kenaikan hingga tak terkendali. "Karena memang sulit, dengan efektivitas yang jauh lebih kuat daripada Delta ini membuat (Omicron) banyak sekali menginfeksi orang," tukasnya.

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa total jumlah kasus Omicron di Indonesia hingga Rabu (12/1) telah mencapai angka 572. Pada Rabu, Indonesia mencatat 66 kasus baru dengan 33 kasus dari pelaku perjalanan internasional dan 33 kasus lainnya merupakan transmisi lokal.

Seluruh pasien diwajibkan untuk menjalani karantina kesehatan. Mayoritas pasien dikarantina di RSDC Wisma Atlet Kemayoran dan sisanya di RS yang telah ditunjuk oleh Satgas Penanganan COVID- 19.

Pihak Kemenkes mengungkapkan tidak ada perbedaan karakteristik gejala antara pasien perjalanan luar negeri dan pasien transmisi lokal. Sebagian besar gejalanya ringan dan tanpa gejala, dan yang paling banyak adalah batuk, pilek serta demam.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts