Bocah di Tangsel Berhasil Lolos Usai Loncat dari Motor Penculik, Kini Alami Trauma
Pixabay/Sammy-Sander
Nasional

Bocah perempuan di Tangerang Selatan berhasil lolos dari aksi penculikan dengan lompat dari motor penculik. Kini bocah itu harus menjalani konseling usai trauma karena sempat mengalami pelecehan.

WowKeren - Percobaan penculikan dialami seorang anak peremupan di Setu, Tangerang Selatan (Tangsel). Untungnya, cocah berinisial A (12) ini berhasil menyelamatkan diri usai melompat dari atas motor pelaku.

"Jadi anaknya pas motor tidak kencang dia loncat," ujar Kepala Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Tri Purwanto kepada wartawan pada Jumat (14/1).

Penculikan bocah A ini terjadi pada 2 Januari lalu. Tiba-tiba pelaku berinisial DFR (22) mendatangi A dengan dalih menanyakan suatu alamat. A pun sempat menyarankan pelaku untuk menggunakan aplikasi Google Maps. DFR berkilah tidak bisa menggunakan aplikasi tersebut dan terus membujuk korban.

"Dijawab sama dia 'bapak pakai Aplikasi Google Maps aja' gitu alamatnya. Pelaku memaksa korban untuk ikut. Teman korban menyuruh A untuk ikut," terang Tri.

DFR kemudian memberi iming-iming korban dengan uang Rp 5 ribu. Korban pun akhirnya menuruti permintaan pelaku. Aksinya itu ternyata terekam kamera CCTV di sekitar lokasi kejadian.


"Sempat menarik korban dengan diiming-imingi uang Rp 5 ribu untuk mengantarkan. Akhirnya korban ikut naik motor dengan pelaku terlihat di CCTV warga komplek," beber Tri.

"Di Pabuaran. Dia turun di situ. Karena waktu itu motor itu tidak kenceng. Jadi anaknya pas motor tidak kenceng dia loncat langsung lari ke keramaian masyarakat karena ada pertandingan bola. Akhirnya pelaku kabur. sempat dikejar warga juga," sambungnya.

Aparat Polres Tangerang Selatan berhasil menangkap pelaku penculikan. Perdasarkan hasil penyelidikan yang diungkap polisi, selama diculik, A ternyata sempat dilecehkan oleh pelaku. Polisi menyebut, pelaku menculik korban karena punya niat mencabuli. Pelaku sempat melecehkan korban di atas motor.

"Pengakuannya baru sekali melakukannya. Motifnya ketertarikan pelaku terhadap korban yang sedang bermain sehingga muncullah niat untuk percobaan pencabulan. Area sensitif, tapi kan tidak harus yang di sana tapi yang jelaskan oleh korban merasa risihnya di situ karena bagian lutut ke atas sudah mulai di raba-raba," ungkap Kasat Reskrim Polres Tangsel, AKP Aldo Primananda.

Akibatnya, kini korban pun masih mengalami trauma. Hal itu diungkap Tri Purwanto, Kepala P2TP2A.

"Makanya waktu datang dia cuma mau anaknya di-konseling karena trauma. Akhirnya kita jadwalkan konseling karena anaknya itu jika mau mandi, pintunya harus dibuka, enggak berani lagi keluar main. Yang paling berpengaruh itu psikisnya. Jadi dia ketakutan sekarang," pungkasnya.

(wk/amel)

You can share this post!

Related Posts