'Gerah' Pelaku Karantina COVID-19 Bisa Kabur, Satgas Wacanakan Pakai Gelang Chip untuk Pantau
Nasional

Satgas COVID-19 mengaku tengah mengkaji penggunaan gelang dengan chip untuk memonitor pelaku karantina. Pasalnya ada pelaku yang bisa kabur dari kewajiban karantina.

WowKeren - Indonesia terus berupaya memperbaiki sistem karantina COVID-19. Termasuk dengan rencana menggunakan gelang yang mengandung chip untuk memonitor orang yang sedang melakukan karantina.

Rencana ini diungkap Kepala Sub Bidang Tracing Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Koesmedi Priharto. Pasalnya Satgas COVID-19 menemukan beberapa masalah termasuk adanya orang kabur dari kewajiban karantina.

"Tentunya kita harus mulai berpikir yang tepat ya. Setelah dua tahun lebih kita menjalani semuanya, bahwa wabah itu kan kuncinya menemukan kasus secepatnya dan melakukan karantina, mencegah penularan ke mana-mana," jelas Koesmedi dalam sebuah diskusi yang ditayangkan di YouTube MNC Trijaya FM, Sabtu (15/1).

"Nah masalah karantina itu selalu menjadi masalah. Apapun bentuknya ada di sana, bisa dari orangnya, bisa sanak saudaranya, bisa temannya, bisa keluarganya, semua menjadi masalah di tempat itu," imbuh Koesmedi.


Karena itulah, Satgas tengah mengkaji rencana untuk menggunakan gelang dengan kandungan chip. Gelang ini diharapkan bisa memonitor orang yang dikarantina.

"Kita harus mulai mencari model. Artinya model apa sih yang bisa kita lakukan supata karantina itu bisa diterima dengan enak. Kita pun petugas bisa memonitor semuanya dengan baik, ini yang harus kita ciptakan," tuturnya.

"Kita pernah mencoba, dan ini sedang kita coba cari ya, apakah mungkin seorang yang dikarantina itu diberikan gelang kemudian kita bisa memonitor dengan chip yang ditaruh di sana. Orang ini ada di mana, posisinya seperti apa, itu kan kita bisa lihat karena teknologi sangat memungkinkan saat ini. Kita sedang mencari informasi ke teman-teman kita hal-hal tersebut," lanjut Koesmedi.

Pemerintah memang saat ini sudah menggunakan aplikasi PeduliLindungi untuk melakukan pelacakan dan pemantauan. Namun aplikasi yang berada di ponsel ini memiliki kelemahan seperti apabila ponsel ditinggalkan sedangkan yang memiliki beraktivitas.

"Kalau PeduliLindungi itu kan ditaruh di handphone, kan bisa ditinggal sama dia, kemudian dia pergi ke mana-mana, kita enggak bisa monitor dia," pungkas Koesmedi. "Berbeda kalau chip dipasang di badan orang itu sendiri."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts