Bantah Warga 'Kampung Miliarder' di Tuban Jatuh Miskin, Kades: Justru Menjadi Kaya
YouTube
Nasional
Kampung Miliarder Tuban

Gianto selaku Kepala Desa Sumurgeneng, Kabupaten Tuban, membantah warganya jatuh miskin usai sempat menjadi miliarder dadakan setahun lalu. Desa Sumurgeneng sendiri sebelumnya disebut sebagai 'Kampung Miliarder'.

WowKeren - Sejumlah warga di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, yang sempat menjadi miliarder dadakan usai menjual tanahnya untuk pembangunan kilang minyak Pertamina belakangan kembali ramai diperbincangkan. Pasalnya, beberapa warga mengaku menyesal telah menjual tanah yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.

Kekinian, Gianto selaku Kepala Desa Sumurgeneng, Kabupaten Tuban, membantah warganya jatuh miskin usai sempat menjadi miliarder dadakan setahun lalu. Desa Sumurgeneng sendiri sebelumnya disebut sebagai "Kampung Miliarder" setelah ratusan warganya mendapat uang ganti rugi lahan dari Pertamina hingga miliaran rupiah.

Menurut Gianto, kehidupan warga Sumurgeneng tidak berubah usai mereka menjadi miliarder. Kehidupan warganya saat ini disebut masih kondusif dan baik-baik saja. Beberapa warga dikabarkan ada yang memilih untuk membeli tanah di luar desa.

"Warga saya kelihatannya masih kondusif dan baik-baik saja. Kalau mau lebih tahu datang saja ke Sumurgeneng untuk lihat kondisi rumah dan mungkin ada peningkatan dari yang kemarin." kata Gianto kepada CNN Indonesia, Rabu (26/1).

Lebih lanjut, Gianto mengungkapkan bahwa warganya justru tambah kaya setelah mendapat ganti rugi dari Pertamina. Ia pun membantah ada warga yang semakin miskin usai sempat menjadi miliarder dadakan.


"Justru menjadi kaya, karena tanahnya di luar desa itu lebih luas. Waktu itu tanahnya misal 1 hektare yang dijual, yang pertama dibelikan tanah di desa lain 2 hektare, masih sisa uang," paparnya. "Itu kan dibelikan tanah, berarti kan kalau 2 hektare baru (habis) Rp 4 miliar, sisanya buat beli rumah, bayar utang, atau beli mobil."

Selain itu, Gianto juga membantah banyak warga Sumurgeneng menjadi pengangguran usai menjual tanah mereka ke Pertamina. Gianto menilai pemberitaan tersebut kurang tepat dengan kondisi aktual di wilayahnya.

Gianto turut menanggapi aksi unjuk rasa yang menagih janji Pertamina untuk memprioritaskan warga lokal sebagai pekerja. Menurutnya, proses rekrutmen warga untuk bekerja di Pertamina disebutnya masih terus berlangsung hingga saat ini. Di Desa Sumurgeneng sendiri ada 67 orang warga yang telah diterima kerja di PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP).

"Wajar kalau ada yang belum masuk ini minta kerjaan. Karena orang ya harus bekerja, kita kan kalau bisa jangan nganggur," tuturnya.

Terkait aksi unjuk rasa tersebut, Gianto menilai ada salah paham antara warga dengan pihak Pertamina Rosneft. Informasi lowongan kerja di Pertamina Rosneft itu disebutnya sempat menyebar ke masyarakat umum. Padahal lowongan tersebut sejatinya disediakan untuk warga enam desa di Tuban yang terdampak langsung proyek pembangunan kilang minyak. Antara lain Desa Wadung, Mentoso, Rawasan, Sumurgeneng, Beji, dan Kaliuntu.

"Itu karena kurang koordinasi, jadi disampaikan, di-share untuk umum. Bahkan ada yang lamar dari luar desa ya. Jadi khawatirnya nanti enam desa ini diisi dari luar ring, sementara di ring kan masih butuh pekerjaan. Intinya minta prioritas," jelasnya.

(wk/Bert)


You can share this post!


Related Posts