Dulunya Jadi Miliarder Dadakan, Begini Nasib Pilu Warga Tuban Usai Jual Tanah ke Pertamina
Instagram
Nasional
Kampung Miliarder Tuban

Sejumlah warga miliarder melakukan unjuk rasa di kantor PT Pertamina GRR Tuban pada Senin (24/1). Mereka berunjuk rasa menagih janji Pertamina berikut ini.

WowKeren - Sekitar Februari 2021 lalu, sejumlah warga di Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, mendadak jadi miliarder. Banyak warga yang memborong membeli mobil mewah keluaran terbaru. Diketahui, warga menjadi miliarder usai mendapat uang ganti rugi pembebasan lahan dari proyek kilang yang digarap PT Pertamina (Persero).

Pertamina disebut melakukan pembebasan lahan tersebut guna membangun Kilang Tuban yang termasuk dalam proyek New Grass Root Refinery (NGRR). Pertamina menggarap proyek tersebut untuk menciptakan kemandirian energi. Nantinya, kapasitas produksi Kilang Tuban bakal mencapai 300 ribu barrel per hari. Kilang Tuban juga akan menghasilkan bahan bakar dengan kandungan berstandar Euro V yang lebih berkualitas.

Kini hampir satu tahun sudah peristiwa viral tersebut terjadi. Lantas, bagaimana nasib para miliarder dadakan tersebut? Rupanya tidak sedikit warga yang bernasib pilu. Mereka bahkan mengaku menyesal telah menjual lahannya.

Hal ini diketahui saat sejumlah warga melakukan unjuk rasa di kantor PT Pertamina GRR Tuban pada Senin (24/1). Mereka berunjuk rasa menagih janji Pertamina yang akan memprioritaskan warga lokal sebagai pekerja.

Seorang warga bernama Mugi mengaku kini tidak berpenghasilan. Sebelumnya, ia memiliki lahan pertanian seluas 2,4 hektar. Ia menjual lahan itu dengan harga Rp2,5 M lebih.


"Ya nyesel, dulu lahan saya ditanami jagung dan cabai setiap kali panen bisa menghasilkan Rp 40 juta," ungkap Mugi kepada kompas.com. "Sejak tak (saya) jual, saya tidak ada penghasilan."

Diakui Mugi, ia sebenarnya tidak ingin menjual tanahnya. Namun pihak Pertamina selalu datang merayu. "Setiap saya di kebun, saya didatangi dan dirayu-rayu mas, mau diberikan pekerjaan anak-anak saya pokoknya dijanjikan enak-enak, tapi sekarang mana, enggak ada," lanjut Mugi.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Musanam. Pria berusia 60 tahun itu itu juga kehilangan penghasilan. Demi memenuhi kebutuhan hidupnya kini, Musanam sampai harus menjual beberapa ekor sapi miliknya.

Menanggapi hal ini, koordinator warga yakni Suwarno, ikut angkat bicara. Menurut Suwarno, pihak perusahaan mensyaratkan pekerja dari warga lokal harus di bawah usia 50 tahun. Hal ini tidak sesuai dengan janji Pertamina pada saat proses pembebasan lahan.

"Ada pembatasan persyaratan usia yang dilakukan pihak perusahaan di atas 50 tahun tidak diperbolehkan," terang Suwarno. "Ini gimana pekerja kasar aja tidak diperbolehkan, Tapi, kenyataannya ada pekerja dari luar ring 1 yang usianya di atas batas umur yang ada."

Sayang, hingga kini pihak Pertamina masih belum memberikan kejelasan pasti. Perwakilan Pertamina, Solikhin, mengaku akan menyampaikan tuntutan warga kepada pihak manajemen di pusat. "Ya, nanti pihak coorporate yang akan menjawab semuanya melalui lembaran press release," tandas Solikhin.

(wk/diah)


You can share this post!


Related Posts