Suaminya 'Dikerangkeng' di Rumah Bupati Langkat Selama 3 Bulan, Wanita Ini Ungkap Fakta Mengejutkan
Pexels/Ron Lach
Nasional
Kerangkeng Manusia Bupati Langkat

Istri salah satu penghuni kerangkeng manusia di rumah Bupati Langkat non-aktif, Terbit Rencana Perangin Angin, lantas ikut buka suara atas isu perbudakan yang muncul di tempat itu.

WowKeren - Temuan kerangkeng manusia di rumah Bupati Langkat non-aktif, Terbit Rencana Perangin Angin alias Cana, belakangan menggegerkan publik hingga dinilai sebagai salah satu bentuk praktik perbudakan modern. Kekinian, istri salah satu penghuni kerangkeng manusia di rumah Cana pun ikut buka suara atas isu perbudakan yang muncul.

Menurut wanita bernama Hana tersebut, informasi yang beredar di media tentang adanya aktivitas kerja paksa atau perbudakan sama sekali tidak benar. "(Kerja paksa) itu benar-benar tidak ada, karena saya satu kampung dengan Bapak Bupati. Tidak ada sama sekali kerja paksa," ujar Hana kepada jurnalis Kompas TV pada Rabu (26/1).

Hana menyebut "kerangkeng manusia" di rumah Bupati Langkat sebagai "panti rehabilitasi". Ia menyatakan bahwa isu penghuni panti rehabilitasi tersebut hanya diberi makan dua kali sehari adalah informasi yang tidak benar. Bahkan, Hana menyebut asupan gizi para penghuni panti rehabilitasi tersebut benar-benar diperhatikan.

"Yang diberitakan media seperti makan dua kali sehari itu benar-benar tidak ada. Menurut saya, makanan yang diberikan kepada penghuni panti rehabilitasi sangat layak," ujarnya. "Gizi mereka benar-benar diperhatikan."

Suami Hana sendiri disebut menjadi penghuni panti rehabilitasi tersebut selama sekitar tiga bulan. Menurut Hana, sang suami awalnya bekerja sebagai pedagang namun terlibat narkoba beberapa tahun lalu.

"Suami saya sendiri lagi ada di dalam. Suami saya kurang lebih jadi penghuni panti rehabilitasi selama tiga bulanan," katanya.


Hana sendiri mengaku masih dapat menjaga komunikasi selama sang suami dibina di panti rehabilitasi. Penghuni panti rehabilitasi tersebut rupanya boleh dijenguk.

"Walaupun suami saya direhabilitasi, kami masih bisa komunikasi karena saya diperbolehkan berkunjung menjenguknya," ungkapnya. "Tapi karena sekarang situasinya pandemi begini, jadi tidak bisa berkunjung."

Meski demikian, Hana mengaku kurang tahu mengenai aktivitas sehari-hari para penghuni panti rehabilitasi tersebut. Namun ia menilai kabar adanya aktivitas perbudakan di tempat tersebut sama sekali tidak benar.

"Tapi menurut saya, tidak ada di sana aktivitas perbudakan. Saya pun terkejut melihat pemberitaan di media sosial karena berita itu tidak benar," ucap Hana.

Lebih lanjut, Hana menjelaskan bahwa panti rehabilitasi yang didirikan Bupati Langkat tersebut sangat membantu masyarakat. Terlebih untuk warga Desa Raja Tengah.

"Karena sekarang ini peredaran narkoba sangat marak di tengah-tengah masyarakat, khususnya di desa kami," tukasnya. "Tetapi setelah ada panti rehabilitasi, banyak masyarakat yang menggunakan narkoba kemudian oleh orang tuanya diserahkan untuk dibina."

(wk/Bert)


You can share this post!


Related Posts