PBB mengatakan bahwa mereka menemukan bukti jika kelompok tersebut menggunakan sebuah masjid dan beberapa kamp musim panas untuk menyebarkan ideologi mereka.
- Zodiak Yanuarita
- Senin, 31 Januari 2022 - 08:56 WIB
WowKeren - Perang selalu menjadi hal yang ditakutkan oleh banyak orang. Salah satu hal yang tak terhindarkan ketika terjadinya perang adalah korban jiwa.
Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat hampir 2.000 anak yang direkrut oleh pemberontak Houthi Yaman telah tewas di medan perang. Hal itu dijelaskan PBB secara panjang lebar dalam laporan tahunan kepada Dewan Keamanan yang dibagikan pada Sabtu (29/1).
PBB mengatakan bahwa mereka menemukan bukti jika kelompok tersebut menggunakan sebuah masjid dan beberapa kamp musim panas untuk menyebarkan ideologi mereka. Empat anggota panel ahli mengatakan Houthi juga merekrut anak-anak untuk melawan pemerintah Yaman yang sah diakui secara internasional. Bahkan anak berusia kurang dari 7 tahun juga dilaporkan ada di salah satu kamp.
"Anak-anak diinstruksikan untuk meneriakkan slogan Houthi 'matilah Amerika, matilah Israel, kutuk orang-orang Yahudi, kemenangan bagi Islam'," kata mereka. "Di satu kamp, anak-anak berusia 7 tahun diajari membersihkan senjata dan menghindari roket."
Selain menerima daftar 1.406 anak-anak yang direkrut oleh Houthi yang tewas di medan perang pada tahun 2020, panel tersebut juga mendapatkan daftar 562 tentara anak yang terbunuh antara Januari dan Mei 2021. Para ahli menyebutkan jika sejumlah besar dari anak-anak tersebut terbunuh di Amran, Dhamar, Hajjah, Hodeidah, Ibb, Saada dan Sanaa.
"Mereka berusia antara 10 dan 17 tahun," ujar mereka. Para ahli mengecam pengikutsertaan anak-anak dalam konflik tersebut dan meminta semua pihak agar tidak menggunakan tempat-tempat seperti sekolah, kamp musim panas, dan bahkan masjid untuk merekrut mereka.
Selain mengenai jumlah anak yang tewas direkrut dalam perang, laporan itu juga menyebutkan jika pemberontak yang menguasai ibu kota Sanaa terus mendapatkan pasokan komponen penting untuk persenjataan mereka dari perusahaan-perusahaan di Eropa dan Asia. Misalnya seperti mesin dan elektronik.
Sedangkan untuk sebagian besar jenis kendaraan udara tanpa awak (drone) dirakit di daerah yang dikuasai Houthi. Begitu juga dengan alat peledak improvisasi melalui air dan roket jarak pendek.
(wk/zodi)