HET Minyak Goreng Ditetapkan Mulai Rp 11.500 per Liter, Pedagang dan Pembeli di Pasar Mengeluh
Wikimedia Commons/Netojinn
Nasional

Harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng curah mencapai Rp 11.500 per liter, sedangkan HET minyak goreng kemasan sederhana mencapai Rp 13.500 per liter, dan HET minyak goreng kemasan premium mencapai Rp 14.000 per liter.

WowKeren - Kementerian Perdagangan telah menerapkan aturan harga eceran tertinggi (HET) untuk minyak goreng curah hingga kemasan premium mulai Selasa (1/2). HET minyak goreng curah mencapai Rp 11.500 per liter, sedangkan HET minyak goreng kemasan sederhana mencapai Rp 13.500 per liter, dan HET minyak goreng kemasan premium mencapai Rp 14.000 per liter.

Meski aturan tersebut telah diberlakukan, sejumlah pembeli mengaku masih menemui minyak goreng dengan harga eceran yang tinggi di pasar. Salah satunya adalah Icha, seorang pembeli minyak goreng di Pasar Senen, Jakarta Pusat.

"Saya pikir sudah murah per hari ini. Saya beli masih mahal, sekilo bahkan kemarin saya beli yang curah masih Rp 20 ribu. Ternyata sama aja," ungkap Icha kepada MNC PORTAL pada Rabu (2/2).

Jenis minyak goreng yang biasa digunakan Icha untuk kebutuhan sehari-hari rupanya tidak menentu. Tergantung dari harga murah yang bisa ia dapatkan.

"Kadang-kadang kalau ada yang murahnya curah pake itu, kadang juga pake yang liter kaya bimoli," ujarnya. "Ya harapannya diselidikin aja dulu, faktanya harga-harga juga masih dimahalin, agar penyebarannya lebih merata."

Sementara itu, seorang warga Kota Sukabumi bernama Anisa mengaku tak kunjung menemukan minyak goreng premium yang biasa dibelinya. Padahal ia telah berkeliling ke minimarket bersama suaminya untuk mencari minyak goreng.


"Sudah berkeliling yang di jalan Nyomplong, jalan Pelabuhan II, tidak ada. Bilangnya tiada ada habis stoknya," jelas Anisa kepada Tribunjabar.id.

Akhirnya, Anisa pun terpaksa membeli minyak goreng premium yang ada di pasar. Padahal harga minyak goreng di pasar masih jauh lebih tinggi dibanding HET yang ditetapkan pemerintah.

"Ya beli ke pasar, Meski harganya Rp 39 ribu yang dua liter. Namanya juga butuh ya beli aja dari pada enggak masak," tuturnya.

Di sisi lain, pedagang minyak goreng rupanya juga memiliki keluhan tersendiri. Rizal yang merupakan pedagang minyak goreng di Pasar Senen misalnya, mengaku pembelinya kini menurun drastis sejak pemerintah menurunkan harga minyak goreng di ritel modern.

"Semenjak pemerintah menurunkan harga minyak di daerah Indomaret atau Alfamart, mereka pada lari kesana," terang Rizal. "Kondisi pembeli jadi sepi di pasar tradisional. Kita jadi sepi langganan, jadi pada pergi. Bahkan satuan yang dibeli pun menurun."

Rizal mengungkapkan bahwa langganan yang biasa membeli 5-7 kilo minyak goreng curah kini hanya membeli setengahnya saja. Hal ini membuat omzet pendapatan dan penghasilannya jauh menurun dibanding sebelumnya.

"Jadi pelanggan yang biasa beli 7 kilo sekarang mah cuma 3 kilo. Semenjak harga minyak naik juga pembeli semakin sedikit, makin mengurang, dan mengurangnya hampir setengahnya," paparnya. "Semoga dengan harga minyak yang terus turun, semoga mulai hari ini bisa kembali lagi normal. Pembeli juga dapat beli tanpa dibatas-batasi lagi."

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait