Pasukan khusus AS meluncurkan serangan ke Suriah. Meski demikian, target dari serangan tersebut belum diketahui jelas, hanya saja ada dugaan menyerang kelompok terorisme.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Kamis, 03 Februari 2022 - 18:45 WIB
WowKeren - Pada Kamis (3/2), Pentagon mengumumkan bahwa pasukan operasi khusus Amerika Serikat (AS) melakukan misi kontraterorisme yang "berhasil" di barat laut Suriah. Dalam sebuah pernyataan singkat, Sekretaris Pentagon John Kirby menuturkan bahwa misi tersebut dilakukan sejak Rabu (2/2) malam.
Meski demikian, Kirby tidak merinci secara spesifik tentang serangan itu, termasuk siapa yang menjadi targetnya. Di sisi lain, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (HAM) mengatakan bahwa serangan itu dilakukan oleh pasukan koalisi setelah tengah malam di Kota Utara Atmeh, dekat perbatasan Turki, dan berlangsung hingga sekitar pukul 3.30 pagi.
Berdasarkan pemantauan yang dilakukan, setidaknya ada sembilan orang yang tewas, termasuk dua orang anak-anak dan seorang wanita. Sementara Charles Lister selaku Direktur Program Suriah dan Penanggulangan Terorisme dan Ekstremisme Institut Timur Tengah yang berbasis di AS mengatakan bahwa pasukan operasi khusus itu terlibat dalam serangan di sebuah gedung Atmeh yang mengakibatkan "bentrokan hebat" setelah mereka berusaha mengevakuasi non penjuang.
"Rumah itu hampir rata, helikopter pergi, tetapi beberapa serangan pesawat tak berawak sejak itu terjadi," ungkap Lister dikutip pada Kamis (3/2).
Sementara itu, responden pertama di tempat kejadian pada Kamis (3/2), melaporkan ada 13 orang yang tewas, di antaranya enam anak-anak dan empat wanita. Di sisi lain, Kirby menyebut atas peristiwa tersebut tidak ada korban dari pihak AS. "Informasi lebih lanjut akan diberikan saat tersedia," ujar Kirby.
Melansir The Associated Press, beberapa warga dan jurnalis di lokasi mengatakan bahwa mereka melihat bagian tubuh yang berserakan di dekat lokasi serangan, sebuah rumah di Provinsi Idlib, yang dikuasai oleh pmeberontak Suriah. Sebagian besar penduduk diketahui berbicara dengan syarat anonim atau tidak ingin disebutkan identitasnya lantaran takut akan pembalasan, dan mengatakan bahwa serangan itu melibatkan sebuah helikopter, ledakan dan tembakan senapan mesin.
Menurut warga anonim, serangan tersebut merupakan yang terbesar di Provinsi itu sejak serangan AS era Donald Trump 2019 lalu, yang menewaskan pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi.
Sementara itu, seorang pejabat intelijen Irak yang berhubungan dengan koalisi pimpinan AS mengatakan bahwa target pada serangan itu adalah seorang pemimpin militan tingkat tinggi yang identitasnya akan dirilis oleh Gedung Putih nantinya. Berdasarkan informasi yang didapatnya, menunjukkan sosok tersebut kemungkinan penerus al-Baghdadi atau yang kini dikenal sebagai Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurayshi.
(wk/tiar)