Sejumlah Maskapai Batalkan dan Alihkan Penerbangan ke Ukraina di Tengah Ancaman Perang
Dunia

Pihak Barat memperingatkan bahwa invasi Rusia sudah di depan mata, sedangkan Rusia telah membantah berniat menginvasi Ukraina meski mereka mengerahkan puluhan ribu tentara di dekat perbatasan.

WowKeren - Ketegangan Rusia dan Ukraina membuat sejumlah maskapai membatalkan atau mengalihkan penerbangannya ke Ukraina. Pihak Barat memperingatkan bahwa invasi Rusia sudah di depan mata, sedangkan Rusia telah membantah berniat menginvasi Ukraina meskipun mengerahkan puluhan ribu tentara di dekat perbatasan dan mengecam Barat sebagai "puncak histeria".

Pada Minggu (13/2), maskapai penerbangan sewaan asal Ukraina, SkyUp, mengatakan bahwa penerbangannya dari Madeira, Portugal, ke Kyiv, Ukraina, dialihkan ke Kota Chisinau di Moldova. Hal ini diumumkan pasca perusahaan penyewaan pesawat Irlandia mencabut izin untuk menyeberang ke Ukraina.

Selain SkyUp, maskapai penerbangan Belanda KLM juga telah membatalkan penerbangan ke Ukraina sampai pemberitahuan lebih lanjut. Sensitivitas Belanda terhadap potensi bahaya di wilayah udara Ukraina tinggi mengingat adanya kejadian penembakan pesawat jet Malaysia dari Amsterdam ke Kuala Lumpur pada tahun 2014 saat terbang di atas bagian Ukraina Timur yang dikuasai oleh pemberontak yang didukung Rusia. 298 orang di dalam pesawat tersebut tewas, termasuk 198 warga negara Belanda.

Sementara itu, pemerintah Ukraina mengalokasikan 16,6 miliar hryvnia atau setara Rp 8,4 triliun untuk menjamin kelanjutan penerbangan melalui wilayah udara Ukraina. "Keputusan ini akan menstabilkan situasi di pasar transportasi udara penumpang dan akan menjamin kembalinya warga negara kita yang saat ini berada di luar negeri ke Ukraina," jelas Perdana Menteri Denys Shmygal di media sosial.


Kementerian Infrastruktur Ukraina bahkan mengadakan pertemuan darurat yang bertujuan untuk mempertahankan perjalanan ke luar negeri. Mereka juga berupaya untuk menjaga negara itu agar tidak semakin terisolasi di tengah panasnya krisis.

"Wilayah udara di atas Ukraina tetap terbuka dan negara sedang bekerja untuk mencegah risiko bagi maskapai penerbangan," demikian pernyataan pihak kementerian setelah pertemuan.

Di sisi lain, temuan intelijen Amerika Serikat (AS) dan Eropa dalam beberapa hari terakhir telah memicu kekhawatiran bahwa Rusia mungkin mencoba menargetkan latihan militer Ukraina yang dijadwalkan di Ukraina timur pada Selasa (15/2). Menurut dua sumber anonim yang mengetahui isu tersebut, Rusia kemungkinan berencana untuk meluncurkan "operasi bendera palsu"

Pejabat intelijen Amerika percaya bahwa menargetkan latihan militer hanyalah salah satu dari beberapa opsi yang telah dipertimbangkan Rusia sebagai kemungkinan untuk operasi bendera palsu. Gedung Putih telah menggarisbawahi bahwa mereka tidak tahu dengan pasti apakah Presiden Vladimir Putin telah membuat keputusan akhir untuk melancarkan invasi.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait