Perdebatan ini sebenarnya bukan hal baru. Pada bulan Desember lalu, komisi kesejahteraan hewan di legislatif Mexico City menyetujui proposal untuk melarang tradisi yang dibawa oleh para penakluk Spanyol lima abad lalu itu.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 23 Februari 2022 - 13:31 WIB
WowKeren - Ibu Kota Meksiko yang menjadi rumah bagi arena adu banteng terbesar di dunia kini tengah mempertimbangkan untuk melarang praktik tersebut. Para matador di Mexico City pun berjuang untuk mencegah larangan tersebut.
Perdebatan ini sebenarnya bukan hal baru. Pada bulan Desember lalu, komisi kesejahteraan hewan di legislatif Mexico City menyetujui proposal untuk melarang tradisi yang dibawa oleh para penakluk Spanyol lima abad lalu itu. Namun belum ada tanggal yang ditetapkan untuk pemungutan suara oleh anggota parlemen Mexico City tentang masalah ini.
Sementara itu, Meksiko disebut-sebut merupakan benteng adu banteng dengan Plaza de Toros yang berkapasitas sekitar 50.000 orang terletak di ibu kotanya. Meski demikian, Mexico City juga dianggap sebagai pusat progresif di negara mayoritas Katolik konservatif, dan pelopor di bidang-bidang seperti pernikahan sesama jenis, aborsi legal, dan perawatan hewan.
Di sisi lain, pihak pendukung adu banteng mengatakan kebebasan kota juga harus berlaku untuk mereka. "Kita hidup di zaman menghormati minoritas, menghormati kebebasan berpikir. Di mana kata melarang bisa cocok?" ujar seorang jurnalis sekaligus anggota Mexican Bullfighting, Rafael Cue.
Menurut kelompok pendukung, larangan adu banteng akan menjadi "hal yang sangat buruk" bagi kebebasan jika pihak berwenang memaksakan nilai-nilai moral dari satu bagian masyarakat ke bagian lain. Kelompok tersebut menginginkan larangan yang diusulkan untuk diperdebatkan dari perspektif "kebebasan" dan bukan dari "mode atau kebenaran politik."
"Dengan cara ini, aborsi kehamilan legal atau pernikahan sesama jenis juga bisa dilarang," demikian kutipan pernyataan kelompok tersebut.
Sementara itu, pihak penentang adu banteng mengatakan bahwa argumen tersebut tidak layak disampaikan oleh pihak pendukung karena mereka memperlakukan hewan sebagai objek. Para pendukung adu banteng juga disebut telah mengabaikan dampak sosial dari menyiksa hewan di hadapan publik.
"Saya terpengaruh secara tidak langsung kala mereka membunuh dan melukai hewan hidup di arena publik untuk bersenang-senang," tutur Jorge Gavino, seorang anggota parlemen di legislatif Mexico City yang mendukung larangan pertunjukan di mana hewan dibunuh atau dianiaya. "Ini mempengaruhi koeksistensi saya di masyarakat, jadi saya memiliki kewajiban dan hak untuk bertindak melawan hak yang dianggap minoritas oleh pihak ketiga ini."
Ia menambahkan bahwa banteng merasa menderita pada saat berkelahi dapat dibuktikan secara ilmiah. Hingga kini, baru ada segelintir dari total 32 negara bagian Meksiko yang melarang adu banteng. Tujuh negara bagian bahkan melindungi tradisi tersebut sebagai warisan budaya.
(wk/Bert)