Pengaruh Perang Rusia-Ukraina ke Sosial Media: Jadi Ladang Propaganda Hingga Picu Disinformasi
pixabay.com/Ilustrasi/LoboStudioHamburg
Dunia

Rusia melancarkan invasi ke Ukraina pada Kamis pekan lalu. Sejak saat itu, kebenaran menjadi semakin sulit untuk diurai ketika banyak serangkaian tweet yang menyesatkan muncul.

WowKeren - Invasi Rusia ke Ukraina menjadi konflik bersenjata pertama di Eropa yang terjadi di era media sosial. Sebagaimana diketahui, dampak media sosial tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sebab, informasi di media sosial bisa menyebar dengan sangat cepat. Sayangnya, tidak semua informasi benar adanya sesuai fakta dan tak sedikit yang justru dimanfaatkan untuk melakukan propaganda. Video TikTok, berita utama yang dipropagandakan, dan tweet yang tersebar di seluruh layar di seluruh dunia sukses membingungkan jutaan orang tentang kenyataan bagaimana pertempuran ini berlangsung di lapangan.

Melansir AP News, dalam beberapa hari terakhir saja, Presiden Rusia Vladimir Putin dan media Rusia telah meningkatkan tuduhan palsu bahwa Ukraina melakukan genosida. Rusia melancarkan invasi ke Ukraina pada Kamis pekan lalu. Sejak saat itu, kebenaran menjadi semakin sulit bagi seluruh dunia untuk diurai. Pasalnya ada serangkaian ratusan tweet yang menyesatkan, video yang diedit, dan foto di luar konteks yang muncul setelah tembakan pertama perang terdengar.

Perang yang terjadi antara Ukraina dan Rusia juga telah menguji nilai-nilai perusahaan teknologi yang telah lama memposisikan diri sebagai mercusuar kebebasan berekspresi dan standar demokrasi. Mykhailo Fedorov, menteri digital Ukraina, pada hari Jumat mengirim surat kepada CEO Apple Tim Cook, memintanya untuk berhenti memasok produk dan layanan, termasuk App Store, ke Rusia.

Fedorov juga mentweet Sabtu pagi bahwa dia telah menghubungi perusahaan induk Facebook, Meta, bersama dengan Google dan Netflix, meminta mereka untuk menangguhkan layanan di Rusia. Dia meminta YouTube untuk memblokir saluran "propagandis" Rusia.

Di Twitter, pengguna meminta pengikut mereka untuk melaporkan saluran YouTube dengan lebih dari 22.000 pengikut yang telah membagikan video yang tampaknya mengungkap pergerakan pasukan Ukraina. YouTube mengumumkan pada hari Sabtu bahwa mereka akan mencegah beberapa saluran Rusia memonetisasi konten mereka.

Ketika kebuntuan militer antara Rusia dan Barat meningkat di sepanjang perbatasan Ukraina, bentrokan terpisah terjadi di media sosial. Para peneliti mengatakan aktor pro-Rusia membanjiri situs dengan pesan yang menggambarkan pasukan Barat sebagai agresor.

Sementara itu, Rusia telah membatasi Twitter di beberapa wilayahnya, sebagaimana telah dikonfirmasi oleh Twitter sendiri. "Kami menyadari bahwa Twitter dibatasi untuk beberapa orang di Rusia dan sedang berupaya untuk menjaga layanan kami tetap aman dan dapat diakses," kata Twitter.


Begitu juga dengan Facebook. Regulator komunikasi Rusia Roskomnadzor menuduh Facebook melanggar hak dan kebebasan warga negara Rusia.

Pengamat konektivitas internet di NetBlocks mengatakan ada pembatasan total atau hampir total pada Twitter di Rusia. Koresponden BBC di Moskow, Steve Rosenberg, mengatakan dia mengalami kesulitan dalam men-tweet.

Sebaliknya, banyak platform besar telah membatasi akses Rusia dalam beberapa cara. Meta tetap pada upayanya untuk mengekang informasi yang salah di situsnya, dan juga telah memilih untuk memblokir media pemerintah Rusia agar tidak menjalankan iklan apa pun di Facebook atau untuk memonetisasi dengan cara apa pun, menurut NPR.

Google juga telah menghentikan kemampuan Rusia untuk mengambil untung dari konten di seluruh layanannya. YouTube memblokir iklan yang disponsori negara dari saluran Rusia di platformnya, dan membatasi rekomendasi video ke saluran Rusia sementara memblokirnya sepenuhnya di Ukraina.

Pada hari Minggu, Alphabet, Inc. juga melarang unduhan aplikasi RT di wilayah Ukraina atas permintaan pemerintah Ukraina. Pengguna baru di Ukraina tidak akan dapat mengunduh aplikasi outlet media milik Rusia.

Singkat kata, dari perspektif media, yang membedakan invasi Rusia ke Ukraina adalah banyaknya informasi yang berseliweran di media sosial. Beberapa di antaranya dapat diandalkan, namun ada juga yang disinformasi.

Daniel Johnson dari Slate, seorang veteran Angkatan Darat AS, menulis bahwa Ukraina "bisa menjadi perang yang paling didokumentasikan dalam sejarah manusia." Kontennya ada di seluruh TikTok, YouTube, Instagram, dan platform lainnya.

Sejumlah ahli menyarankan cara menavigasi media sosial dan menghindari informasi yang salah tanpa disadari selama peristiwa berita besar yang sedang berlangsung seperti serangan Rusia terhadap Ukraina. Profesor Jennifer Mercieca menekankan bahwa yang pertama adalah bersikap skeptis dan mewaspadai postingan berbau propaganda.

David French, seorang veteran Operasi Pembebasan Irak dan editor senior di The Dispatch menyarankan untuk melihat laporan medan perang dengan sangat hati-hati. Kabut perang mempersulit bahkan para pejuang untuk memahami apa yang terjadi secara real time. Sementara itu, Profesor dan pakar disinformasi Kate Starbird mengatakan di Twitter bahwa konsumen harus berhati-hati terhadap akun yang tidak dikenal, dan tidak buru-buru me-retweet sebelum mendalami akun tersebut.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait