Sebelumnya pada 1 April, akun resmi Thai Vietjet mentweet bahwa maskapai itu meluncurkan rute internasional baru antara provinsi Nan di Thailand dan Munich di Jerman.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 05 April 2022 - 09:49 WIB
WowKeren - Salah satu momen populer yang banyak dilakukan oleh orang-orang di seluruh dunia ketika pergantian bulan dari Maret ke April adalah April Mop. Di hari lelucon yang diperingati setiap tanggal 1 April ini, orang-orang akan berbohong atau memberi lelucon pada orang lain.
Namun di Thailand, sebuah cuitan Twitter untuk lelucon April Mop justru berbuntut panjang ke jalur hukum. Lelucon April Mop yang dibuat oleh staf di maskapai Thai Vietjet dapat menyebabkan tuntutan pidana setelah seorang pengacara aktivis mengajukan pengaduan ke polisi dengan tuduhan menghina Raja Thailand Maha Vajiralongkorn.
Terkait hal ini, polisi akan memutuskan apakah kasus ini akan dilanjutkan ke kasus pidana di bawah undang-undang "lese majeste" yang ketat untuk staf maskapai yang merupakan cabang dari Vietjet Aviation Vietnam. Adapun UU ketat yang dimaksud adalah ketika ada pihak yang membuat pencemaran nama baik monarki dapat dihukum hingga 15 tahun penjara.
Sebelumnya pada 1 April, akun resmi Thai Vietjet mentweet bahwa maskapai itu meluncurkan rute internasional baru antara provinsi Nan di Thailand dan Munich di Jerman. Cuitan ini memicu kemarahan online dan ancaman boikot di kalangan ultra-royalis.
Menanggapi cuitannya menuai kecaman, pihak maskapai kemudian menghapusnya dan meminta maaf dalam sebuah pernyataan. Manajemen senior tidak mengetahui tentang tweet yang mengiklankan "rute penerbangan antara provinsi di Thailand dan kota di Eropa, yang menyebabkan banyak reaksi publik".
Padahal, cuitan itu tidak menyebutkan Raja Vajiralongkorn yang memiliki rumah di Jerman di mana ia menghabiskan waktu bersama Permaisuri Kerajaan Sineenat Wongvajiraphakdi, yang lahir di provinsi Nan. Para aktivis secara terbuka mengkritik raja karena dianggap terlalu banyak menghabiskan waktu di luar negeri. 183 orang telah didakwa menghina monarki sejak protes dimulai pada 2020 lalu.
CEO Airline Woranate Laprabang menanggapi kemarahan royalis online dengan mengatakan staf yang bertanggung jawab telah ditangguhkan sambil menunggu penyelidikan. "Saya ingin meminta maaf kepada rakyat Thailand sekali lagi atas insiden seperti itu," kata Woranate.
(wk/zodi)