Pernikahan 1 pria dan 3 wanita di Thailand sukses mencuri perhatian. Apalagi, ketiga mempelai wanita memberikan mahar masing-masing 100 ribu bath, emas hingga sertifikat tanah.
- Amelia Nur Fatimah
- Selasa, 05 April 2022 - 11:42 WIB
WowKeren - Sebuah pernikahan tak biasa yang keluar dari tradisi Thailand terjadi minggu lalu di Provinsi Nonthaburi. Pengantin pria terkejut ketika ketiga pacarnya meminta untuk menikah dan memberinya mahar masing-masing 100 ribu baht.
Faktanya, para wanita ini memiliki total sembilan anak dengan pengantin pria, seorang dokter pengobatan tradisional Thailand. Keluarga poligami ini telah hidup bersama selama beberapa tahun.
Suea Supareek, seorang tabib lokal, adalah keturunan Brahmana. Dalam tradisi Brahmana, wanita lah yang meminang pria dalam pernikahan. Karena itu ketiga mempelai wanita ini diam-diam menabung uang mereka bersama untuk memberikan mahar kepada Suea di hari ulang tahunnya yang ke-35. Para wanita juga menyerahkan emas dan sertifikat tanah pada mempelai pria.
Istri pertama Suea, Nutcharin Phankat (30) telah bersama Suea selama 16 tahun. Mereka memiliki satu putra dan tiga putri bersama.
Istri kedua Seua, Pitchaya Suraseeruangchai (35), telah ada di foto itu selama sembilan tahun dan memiliki tiga putra dan satu putri. Sementara istri ketiga, Kawinthida Kulapatchaiyapoom (31 tahun) bergabung dengan keluarga itu tujuh tahun lalu dan memiliki satu putri.
Keluarga beranggotakan 13 orang itu hidup bersama dan terutama didukung melalui pekerjaan penyembuhan Seua. Saat ia merawat 400-500 pasien setiap bulan.
"Saya ingin menyatukan keluarga saya. Ini adalah cinta yang telah kami kumpulkan sejak lama dan anak-anak kami tumbuh bersama," ujar Istri ketiga Suea, Kawinthida.
“Saya bertemu suami saya di kontes tato. Kami saling mengenal dan dia bilang dia sudah punya dua pasangan. Dia bilang dia seorang dokter dan dia punya anak. Dia selalu jujur dan terbuka dengan kami. Rekan keduanya meminta saya untuk bergabung dengan mereka dan saya setuju untuk tinggal bersama mereka di bawah satu atap. Kami semua saling membantu untuk mencari nafkah dan bertahan hidup," beber Kawinthida.
"Kami belajar bahwa dalam Brahmana, wanita harus melamar pria, jadi kami bertiga berbicara bersama dan setuju untuk membayar mas kawin masing-masing 100.000 baht," pungkasnya.
Pernikahan poligami tidak diakui oleh hukum Thailand. Tetapi gaya hidup itni masih dipraktikkan oleh beberapa orang.
(wk/amel)