Sudah Ada Larangan Ekspor, Pengusaha Hingga Pengamat Ungkap Alasan Minyak Goreng Masih Mahal
Nasional
Kelangkaan Minyak Goreng

Harga minyak goreng hingga kini masih mahal dan pasokan minyak goreng curah juga menjadi langka. Pihak pengusaha lantas mengungkapkan alasan harga minyak goreng masih mahal meski pemerintah telah menerapkan larangan ekspor.

WowKeren - Larangan ekspor minyak goreng dan bahan bakunya diterapkan pemerintah hingga harga minyak goreng curah di pasar tradisional mencapai Rp 14 ribu per liter. Meski demikian, harga minyak goreng hingga kini masih mahal dan pasokan minyak goreng curah juga menjadi langka.

Pihak pengusaha lantas mengungkapkan alasan harga minyak goreng masih mahal meski pemerintah telah menerapkan larangan ekspor. Menurut Sahat Sinaga selaku Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) hal itu bisa saja terjadi karena proses eksekusi larangan ekspor terhambat libur Lebaran.

Sahat menjelaskan bahwa penetapan larangan ekspor telah dikeluarkan pada 28 April 2022 lalu. Hanya saja proses eksekusinya terpotong libur Lebaran sehingga pemerintah baru bergerak saat ini.

"Larangan itu baru berjalan 28 April, diiringi oleh libur Lebaran dan baru sekarang mulai bergerak," ujar Sahat kepada CNN Indonesia, dikutip Rabu (11/5).

Selain itu, pemerintah juga disebut belum selesai membuat regulasi dan surat penugasan kepada BULOG dan ID-FOOD selaku eksekutor untuk mendistribusikan minyak goreng. "Supaya bisa bergerak cepat, dilengkapi dengan modal kerja yang mencukupi karena BUMN inilah yang punya jaringan pasar yang tersebar di ribuan pulau di Indonesia," paparnya.


Sahat juga mengatakan bahwa selama ini proses distribusi minyak gireng diserahkan kepada produsen. Padahal para pengusaha tidak memiliki keahlian untuk mendistribusikan minyak goreng curah secara merata hingga ke agen dan pedagang pasar.

"Inti masalah sekarang itu bukan di bagian produsen minyak goreng, tapi bagaimana menyalurkan produk bersubsidi ini secara cepat, sampai ke Pulau Natuna, Pulau Karimun, Pulau Seram dan lainnya, misalnya," ujarnya.

Sementara itu, pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori mengaku tak heran jika harga minyak goreng masih mahal dengan stok terbatas. Pasalnya, harga minyak goreng sejatinya masih mengikuti tren harga CPO di pasar global.

Adapun harga CPO di bursa sawit Malaysia sudah turun sekitar 9,63 persen sejak Indonesia melarang ekspor. Hanya saja, produsen minyak goreng dalam negeri disebutnya masih menggunakan stok bahan baku lama dari kontrak pembelian terdahulu sehingga biaya produksinya masih tinggi.

"Apalagi, mengacu data KPPU dari 74 pabrik, cuma 10 pabrik yang terintegrasi kebun sendiri. Artinya, kebanyakan pabrik harus belanja bahan baku ke pasar, dan ketika beli, harga CPO-nya masih cukup tinggi, sehingga harga jual minyak goreng akan berbeda dengan pabrik yang terintegrasi dengan kebunnya sendiri," jelasnya.

Selain itu, alasan lain yang mungkin membuat harga minyak goreng masih mahal adalah produksi pabrik belum normal pasca libur Lebara 2022. "Kebijakannya baru hampir dua minggu, bisa jadi baru mau produksi, masih perlu waktu, untuk distribusi juga, meski ini agak sulit juga memastikannya," tukasnya.

(wk/Bert)


You can share this post!

Related Posts