Jaehyun NCT dan Joy Red Velvet Jadi Korban, Kritikus Sebut Bubble Komunikasi Paksa
Instagram
Selebriti

The JoongAng Ilbo menyoroti penggunaan aplikasi chat berbayar bagi penggemar untuk berkomunikasi dengan idol K-Pop yang merupakan wujud dari komunikasi paksa.

WowKeren - Seorang kritikus membagikan wawasannya tentang idol K-Pop yang ditutut harus selalu berkomunikasi dengan penggemar. Topik ini merujuk pada kontroversi Jaehyun NCT dan Joy Red Velvet atas "kurangnya komunikasi" dengan penggemar.

Pada 12 Mei, The JoongAng Ilbo menyoroti penggunaan aplikasi chat berbayar bagi penggemar untuk berkomunikasi dengan idol K-Pop. Seorang kritikus berbagi pandangan mereka tentang batas "layanan penggemar" dan awal dari "kerja emosional."

Kembali pada April, beberapa penggemar mengeluhkan kurangnya pesan Jaehyun di platform Dear U Bubble. Selama waktu itu, para penggemar mengungkapkan kekecewaannya atas sang idol karena postingan dan pesannya yang dianggap tidak tulus.

Beberapa juga menunjukkan bahwa mereka membayar uang hanya untuk mendapatkan foto random dan beberapa pesan dari sang idol. Penggemar harus membayar 4.000 won (atau sekitar Rp50 ribu) per bulan untuk bisa mendapatkan pesan dari idol di Bubble.

Namun Jaehyun bukanlah idol pertama yang mendapat kekecewaan dari para penggemar karena tidak sering mengunjungi aplikasi tersebut. Joy Red Velvet juga tidak mengirim pesan selama sebulan tahun lalu.

Mengenai kontroversi Bubble, SM menjawab, "Kami merekomendasikan artis untuk menggunakan bubble di waktu luang mereka, tetapi karena ini adalah layanan yang berfokus pada percakapan sukarela dan gratis dengan penggemar, sulit untuk terlibat dalam konten dan berapa kali."



Di tengah COVID-19, platform fandom seluler muncul sebagai "masa depan K-pop" dengan menjadi "mesin pertumbuhan." Saat ini, penggemar tidak hanya dapat berkomunikasi dengan bintang secara offline, tetapi interaksi sekarang dapat terjadi menggunakan aplikasi dan platform berbayar tersebut.

Meskipun ini adalah cara yang baik untuk menawarkan "layanan penggemar," frekuensi pengiriman pesan atau foto sangat bervariasi tergantung pada keadaan dan kepribadian sang idol.

Semuanya baik-baik saja sampai penggemar menuntut lebih banyak dari idol favorit mereka, sebagai imbalan atas uang yang mereka bayarkan untuk layanan tersebut.

The JoongAng menyatakan, "Komunikasi paksa adalah semacam 'kerja emosional.' Inilah mengapa ada kekhawatiran bahwa itu bisa menjadi biaya yang tidak masuk akal seperti sandera."

Kim Heon Sik, seorang kritikus budaya pop juga mengungkapkan pandangannya dan berkata, "Ini bisa baik untuk para penggemar, tetapi ini adalah pekerjaan emosional yang besar bagi para idol yang harus mencerna jadwal sibuk mereka dan sering mengirim Bubble."

"Perlu untuk merenungkan kenapa pesan yang dekat harus melibatkan uang, daripada mengkritik berapa kali bintang telah mengirimnya. Jika komunikasi menjadi wajib segera setelah uang terlibat, kita perlu memikirkan perbedaan antara layanan yang dapat dibayar."

(wk/chus)


You can share this post!


Related Posts