Kata Kemenkes Soal Kemungkinan Hepatitis Akut Misterius Jadi Pandemi
Nasional
Kasus Hepatitis Misterius

Kasus hepatitis akut misterius tampaknya mulai semakin berkembang secara global. Lantas akankah hepatitis akut misterius akan menjadi pandemi baru? Begini penjelasan Kemenkes.

WowKeren - Belakangan ini, isu hepatitis akut misterius yang menyerang anak-anak tengah menjadi perbincangan hangat dunia. Di Indonesia sendiri, sudah ada belasan kasus yang diduga terinfeksi hepatitis akut misterius dilaporkan dari sejumlah daerah.

Terkait dengan semakin berkembangnya kasus hepatitis akut misterius itu, memicu pertanyaan akankah menjadi pandemi seperti COVID-19. Atas hal ini, Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk Presidensi G20, Siti Nadia Tarmizi mengatakan bahwa berdasarkan perkembangan kasus hepatitis akut misterius yang menyerang anak secara global, hingga saat ini penyakit itu tidak berpotensi memunculkan pandemi baru.

"Kalau kita lihat, perkembangan kasus, kecepatan dari pada penambahan kasus, fatalitas kasus, ini hepatitis akut misterius berkembang menjadi situasi pandemi rasanya kecil sekali," ujar Nadia dalam diskusi di Gedung DPR, Kamis (19/5).

Menurut Nadia, hal itu dikarenakan kondisinya tidak mengancam begitu banyak dan menyebabkan aktivitas masyarakat terganggu. Meski kemungkinan menjadi pandemi baru kecil, namun ia tetap menegaskan bahwa kasus hepatitis akut misterius itu harus diwaspadai.

Sementara itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) sendiri telah menyatakan kasus hepatitis akut misterius sebagai kejadian luar biasa (KLB). Hal ini dikarenakan hingga detik ini belum juga bisa dipastikan penyebab virus dan pengobatan resmi. Bahkan para ahli pun hingga saat ini masih mencari tahu faktor risiko dan penularannya.



Nadia mengungkapkan, sejauh ini, sejumlah ahli berpendapat bahwa hepatitis akut misterius memiliki gejala yang mirip dengan hepatitis A, yakni hilang nafsu makan, diare akut, nyeri bagian perut, otot, sendi, kuning di mata dan kulit, gatal-gatal, dan urine seperti air teh.

Sementara untuk penularannya, kata Nadia, melalui makanan dan minuman yang dikonsumsi secara bersamaan. "WHO menyatakan ini sebagai potensi terjadinya kejadian luar biasa," imbuhnya.

"Nah, kalau dalam epidemiologi, itu tahapan-tahapan penyakit itu kan mulai dari tahapan peningkatan kasus, kejadian luar biasa, wabah, endemi dan pandemi," jelas Nadia. "Kalau COVID-19 kan sampai di pandemi, kalau ini sampai hati-hati ya, potensi kejadian luar biasa."

Nadia lantas mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan dengan selalu mencuci tangan, tidak makan-makanan sembarangan, dan juga berbagi alat makan dengan orang lain. "Itu kunci awalnya," ungkap Nadia.

Menurut WHO, kasus terbanyak hepatitis akut misterius itu terjadi pada anak-anak usia di bawah 16 tahun. Sementara di Indonesia, berdasarkan dari data kasus yang dimiliki Kemenkes, 7 dari 14 kasus, berdad pada usia di bawah 5 tahun.

Lalu 7 kasus lainnya diduga menginfeksi anak di atas usia 5 tahun. Sementara untuk yang menginfeksi usia 11-16 tahun, ada tiga orang, dan usia 5 sampai 10 tahun berjumlah 4 orang. Nadia mengatakan risiko anak di bawah 5 tahun lebih besar, sehingga dinilai tidak perlu melakukan evaluasi pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah.

(wk/tiar)


You can share this post!


Related Posts