Menteri Agama Ungkap Alasan Dana Haji Kurang Rp 1,5 Triliun
Kemenag RI
Nasional
Haji 2022

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas telah meminta tambahan anggaran kepada Komisi VIII DPR RI terkait operasional haji reguler dan khusus tahun ini.

WowKeren - Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengungkapkan ada kekurangan dana sekitar Rp 1,5 triliun untuk penyelenggaraan haji 1443 H/2022 M. Padahal kloter pertama jemaah haji Indonesia siap berangkat ke Arab SAudi pada Sabtu (4/6) pekan ini.

Yaqut pun meminta tambahan anggaran kepada Komisi VIII DPR RI terkait operasional haji reguler dan khusus tahun ini. Menurutnya, anggaran yang diusulkan tersebut akan dibebankan terhadap beberapa hal.

"Anggaran yang telah disepakati antara pemerintah dengan Komisi 8 DPR pada tanggal 13 April 2022 hanya sebesar 1.531,02 real per jemaah. Sehingga terjadi kekurangan 4.125,02 real per jamaah atau secara kesekuruhan sebesar 380.516.587,42 real atau setara Rp 1.463.721.741.330,89," ungkap Yaqut dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI pada Senin (30/5).

Lebih lanjut, Yaqut menjelaskan komponen terbesar dalam pengajuan tambahan dana haji tersebut adalah untuk biaya masyair sebesar Rp 1,4 triliun. Menurut Yaqut, biaya tersebut merupakan tambahan dari Saudi sebagai penyelenggara ibadah haji kepada semua negara yang mengirimkan jemaah.


"Biaya masyiar ini biaya prosesi ibadah haji di Arafah, Mina, Muzdalifah kurang lebih 4 hari. Kalau dirupiahkan ini Rp 20 juta (per jemaah)," paparnya.

Adapun biaya tambahan tersebut ditetapkan dalam sistem paket yang tidak bisa dinegosiasikan. Salah satunya adalah biaya untuk tenda yang ditetapkan oleh pemerintah Saudi.

"Untuk di tenda memang kemahalan dalam logika kita. Kenapa kita harus bayar hotel, konsumsi dan sebagainya. (Biaya masyair) Itu di luar kontrak-kontrak yang ditandatangani. Jadi kontrak hotel, akomodasi, konsumsi, dan seterusnya, terpisah dari masyair, tidak ada itu," paparnya. "Tidak ada perdebatan, hanya disampaikan kepada kita bahwa dengan negosiasi masyair kita hanya buang-buang waktu. Karena itu yang harus di bayarkan, bukan hanya jemaah dari Indonesia, tapi seluruh dunia harus bayar segitu."

Selain untuk masyair, kekurangan dana juga terkait dengan petugas haji daerah dan pembimbing KBIHU sebesar 2.388.412,83 real atau sekitar Rp 9,187 miliar. Komponen lain adalah Bandara Juanda Surabaya yang masih belum siap, sehingga jemaah haji harus diterbangkan dari Soekarno-Hatta.

"Penerbangan Saudi khususnya Saudi Arabian Airlines diperlukan tambahan technical landing jemaah embarkasi Surabaya yang harus landing dulu di Soekarno-Hatta Rp 25,7 miliar. Serta selisih kurs Rp 19,2 miliar," terangnya. "

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts