2 Orang Pasien Meninggal, Angka Positif COVID di Indonesia Tambah 551 Kasus
Pixabay/geralt
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Pada Minggu (12/6), angka positif COVID-19 di Indonesia naik sebanyak 551 kasus. Selain itu, ada 2 orang pasien COVID-19 yang diinformasikan meninggal dunia.

WowKeren - Kasus COVID-19 di Tanah Air mengalami tren kenaikan selama beberapa hari ke belakang. Terbaru, pemerintah melalui Satuan Tugas Penanganan COVID-19 menyatakan ada penambahan 551 kasus konfirmasi positif COVID-19 pada Minggu (12/6).

Jumlah kasus COVID-19 di Indonesia sampai hari ini tercatat mencapai 6.060.488 kasus. Terhitung sejak pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.

Berdasarkan data yang sama, ada penambahan 407 kasus sembuh COVID-19, sehingga total kasus sembuh kini 5.899.165. Sementara itu, kasus kematian akibat COVID-19 bertambah 2. Dengan demikian, total orang meninggal dunia menjadi 156.643 jiwa.

Sementara itu, kasus aktif COVID-19 di Indonesia pada Minggu ini tercatat ada sebanyak 4.680 kasus. Jumlah ini bertambah 142 kasus dari hari sebelumnya. Selain itu, ada 1.967 suspek COVID-19. Pemerintah juga melaporkan memeriksa 45.799 spesimen dalam 24 jam terakhir.


Jumlah masyarakat yang telah menerima vaksinasi COVID-19 dosis pertama yaitu 200.845.766 orang (96,44 persen), dosis kedua 168.068.616 orang (80,70 persen). Sementara dosis ketiga atau booster sebanyak 47.631.247 orang (22,87 persen).

Presiden Joko Widodo turut mengungkap negara telah menganggarkan hampir Rp1.400 triliun untuk penanganan pandemi COVID-19. Hal itu diungkap Presiden dalam agenda 'Acara Silaturahmi Tim Tujuh Relawan Jokowi' di Ecovention Ancol, Jakarta, Sabtu (11/6).

"Sulit, tidak mudah, tidak gampang, semua negara. Karena apa? Pertama COVID-19 dua tahun ini menghapuskan anggaran kita hampir Rp1.400 triliun hilang, negara lain juga sama, menganggarkan duit yang gede sekali, hilang," ujar Jokowi Sabtu (11/6) kemarin.

Dalam kesempatan itu, Jokowi juga turut menyinggung soal invasi Rusia atas Ukraina yang berdampak pada perekonomian dalam negeri. Padahal sekarang ini pemerintah tengah berupaya memulihkan ekonomi saat kasus COVID-19 menurun.

"Karena dua hal tadi: karena COVID-19 kemudian karena perang, menjadikan semuanya tidak pasti, menjadi semuanya tidak jelas, terjadi lonjakan harga di semua negara. Kita harus ngerti kenapa harga di semua negara ini naik, semua barang," pungkasnya.

(wk/amel)

You can share this post!

Rekomendasi Artikel
Berita Terkait