Terus Meningkat, Menkes Sebut Kasus COVID RI Bisa Tambah 20 Ribu per Hari Akhir Juli
Pixabay/Tumisu
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Masyarakat Indonesia kini tampaknya harus kembali meningkatkan kewaspadaan. Menteri Kesehatan menyebut kasus COVID bisa saja naik hingga 20 ribu kasus per hari.

WowKeren - Belakangan kasus positif COVID-19 di Indonesia terus menunjukkan tren kenaikan. Tak hanya itu, kasus subvarian dari Omicron BA.4 dan BA.5 juga telah ditemukan di Indonesia. Namun hingga saat ini Satgas COVID masih belum bisa menentukan penyebab pasti fenomena lonjakan kasus yang terjadi.

Sementara itu di sisi lain, Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin memprediksi bahwa penambahan kasus harian COVID-19 bisa mencapai 20 ribu menjelang akhir Juli mendatang. Prediksi tersebut berdasarkan dari data di Afrika Selatan, negara pertama yang menemukan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5.

"Kita percaya bahwa nanti akan ada kenaikan maksimal 20 ribu per hari sebulan setelah diidentifikasi, minggu ketiga-minggu keempat Juli. Dan nanti akan turun kembali," ujar Budi Gunadi Sadikin di Istana Kepresidenan Bogor, Kamis (16/6).

Selain itu, Budi juga turut menyampaikan jika saat ini Indonesia masih berstatus level satu berdasarkan asesmen Badan Kesehatan Dunia (WHO). Budi menyebut status Indonesia akan naik ke level dua setelah puncak penularan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5.


Meski begitu, Budi Gunadi menegaskan jika pemerintah hingga kini terus berupaya mengantisipasi peningkatan kasus tersebut. Karena itu, Budi juga turut mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan menaati protokol kesehatan. "Kita monitor ketat," tegasnya.

Angka pertambahan kasus positif COVID-19 di Indonesia terus meningkat. Pada Rabu (15/6), pemerintah melaporkan kasus positif Covid-19 bertambah 1.242.

Penambahan kasus itu merupakan yang tertinggi sejak 13 April 2022. Pemerintah mengatakan peningkatan jumlah kasus berkaitan dengan penemuan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5.

Menurut catatan Kemenkes, saat ini kasus COVID-19 subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 bertambah jadi 20. Rinciannya di Bali ada 3 kasus yang merupakan WNA, 4 kasus dari DKI Jakarta, 1 kasus dari Banten, dan 12 kasus ditemukan di Jawa Barat.

Semenatara itu, epidemiolog turut menyinggung tentang kebijakan lepas masker di ruang publik yang dinilai cukup berisiko. Menurut epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menilai Indonesia belum siap untuk menerapkan kebijakan bebas masker.

(wk/amel)

You can share this post!

Artikel Terkait