Pekerja Migran Indonesia yang Meninggal di Sabah Malaysia Jadi 25 Orang, Mayoritas Karena COVID-19
AFP/Anthony Wallace
Nasional

Jumlah Pekerja Migran asal Indonesia yang meninggal di Sabah, Malaysia diklarifikasi menjadi 25 orang. Para Pekerja Migran asal Indonesia itu meninggal mayoritas akibat COVID-19 dan komorbidnya.

WowKeren - Akhir bulan Juni lalu sempat muncul kabar heboh mengenai kematian PMI (Pekerja Migran Indonesia) di tahanan Imigrasi Sabah, Malaysia. Setelah sempat simpang siur, Kemenlu (Kementerian Luar Negeri) mengklarifikasi bahwa jumlah buruh migran asal Indonesia yang meninggal tercatat mencapai 25 orang. Mereka adalah PMI yang meninggal di wilayah Sabah, Malaysia.

"Hasil klarifikasi jumlah kematian yang ada di Sabah selama tahun 2021-2022 total sebanyak 25 WNI," ujar Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI), Judha Nugraha, Rabu (6/7) melansir Kompas.com.

Kemenlu serta sejumlah perwakilan RI di Malaysia mengadakan pertemuan dengan Pengarah Imigresen Wilayah Sabah dan JKNS (Jabatan Kesihatan Negeri Sabah) pada 28 Juli 2022. Selain itu, Kemenlu juga meminta klarifikasi dari Kedubes Malaysia di Jakarta mengenai jumlah kematian tersebut.

"Kedutaan Malaysia di Jakarta telah menyampaikan koreksi atas data. Jadi data 149 orang yang meninggal itu adalah jumlah kematian WNA di seluruh DTI (Depot Tahanan Imigresen) yang ada di Malaysia selama tahun 2021-2022. Jadi bukan angka WNI," ungkapnya.


Kedutaan Besar Malaysia juga telah menyampaikan permohonan maaf atas kekeliruan data tersebut. Selain itu, Judha mengungkap bahwa pihaknya juga sudah menerima konfirmasi perihal penyebab kematian 25 buruh migran tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan postmortem, 25 PMI di Sabah tersebut meninggal karena sakit.

"Penyebab kematiannya mayoritas karena COVID-19, jantung, Pneumonia, penyakit infeksi dan penyakit-penyakit komorbid dari COVID-19," ungkap Judha.

Pemerintah pun tetap memberikan perhatian serius terkait meninggalnya 25 Pekerja Migran Indonesia di Malaysia itu. Direktorat Perlindungan WNI pun telah mengadakan pertemuan dengan KBMB untuk mendalami kasus tersebut pada 29 Juni lalu. Dalam pertemuan, KBMB membeberkan 4 kasus dugaan penyiksaan atau kekerasan yang dialami WNI.

"Sekali lagi, itu kan data post mortem. Ketika ada informasi lain yang disampaikan oleh teman-teman KBMB berdasarkan hasil wawancara mereka, itu akan kami tindaklanjuti. Jadi kami tentu tidak hanya rely on data post mortem," pungkasnya.

(wk/amel)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Rekomendasi Artikel
Berita Terbaru