Euro yang melemah justru menjadi daya tarik bagi wisatawan, terutama yang berasal dari Amerika. Pekan ini, turis Amerika memadati Avenue Montaigne Paris.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 15 Juli 2022 - 21:05 WIB
WowKeren - Nilai mata uang euro jatuh di bawah 1 dolar Amerika Serikat pada Rabu (13/7) untuk pertama kalinya dalam dua dekade. Itu terjadi di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi yang dipicu oleh konflik Ukraina dapat menyebabkan Uni Eropa mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan.
Namun, euro yang melemah justru menjadi daya tarik bagi wisatawan, terutama yang berasal dari Amerika. Seorang turis asal Amerika Shawna Wilson mengatakan dia telah membeli empat gaun di department store kelas atas milik LVMH La Samaritaine di Paris karena tergoda oleh harganya ketika euro mencapai keseimbangan dengan dolar AS.
Wilson, turis asal Colorado mengatakan, "Seperti ada obral di sini. Karena euro dan dolar hampir sama, itu pasti mendorong kita untuk berbelanja."
Dolar yang kuat versus euro berkontribusi pada kenaikan empat kali lipat dalam pengeluaran pariwisata di Eropa pada Juni dibandingkan dengan tahun lalu, dengan percepatan pengeluaran berasal dari orang-orang Amerika. Saat pandemi, orang-orang telah menghemat uang mereka selama lockdown. Ketika aturan mulai dilonggarkan, orang-orang bergegas membelanjakan uang mereka sehingga sektor barang mewah pun dapat pulih dengan cepat.
Perusahaan barang mewah Richemont dan Burberry pada hari Jumat (15/7) melaporkan penjualan yang lebih tinggi di Eropa. Itu membantu mengimbangi penurunan lebih dari 30 persen di Tiongkok. Prancis telah diuntungkan paling banyak dari turis yang berbelanja secara royal.
Pekan ini, turis Amerika memadati Avenue Montaigne Paris, melihat-lihat butik mewah, yang mencakup nama-nama desainer seperti Louis Vuitton, Chanel dan Gucci. "Saya suka bahwa euro dan dolar sama sehingga saya tahu persis apa yang saya belanjakan," kata Cheryl Penn, makelar dari Florida, yang baru saja tiba di Avenue.
Jennifer Groner, seorang influencer TikTok mengatakan dia belum pernah melihat fenomena seperti ini. Dia membeli sejumlah aksesori dari merek ternama seperti Prada, Dior, Louis Vuitton dan Chanel, dengan penghematan keseluruhan sebesar 8.000 dolar (Rp120 juta) dibandingkan dengan harga AS, berdasarkan perhitungannya. "Anda dapat melakukan perjalanan ke Eropa, menikmati budaya dan pada saat yang sama membeli tas," ujarnya kepada Reuters.
(wk/zodi)