Inflasi AS Diperkirakan Tetap Tinggi, BI Sebut Perekonomian Dunia Tengah Menuju Resesi
ccnull.de/Marco Verch
Nasional

Seperti yang diketahui, AS belakangan ini dihadapkan dengan isu inflasi yang tak biasa. Sementara itu, Gubernur BI pun mengungkapkan mengenai kondisi perekonomian dunia.

WowKeren - Perekonomian dunia hingga saat ini diketahui masih mengalami ketidakpastian. Di Amerika Serikat (AS), masyarakatnya diketahui akhirnya bisa mengambil jeda dari lonjakan harga tanpa henti. Hal ini terjadi ketika inflasi diperkirakan akan tetap sangat tinggi selama berbulan-bulan.

Berdasarkan laporan inflasi pemerintah untuk Juli yang dilihat melalui The Associated Press, diketahui bahwa sebagian besar berkat penurunan harga gas yang diperkirakan menunjukkan harga melonjak 8,7 persen dari tahun sebelumnya. Masih dengan kecepatan yang mendesis, tetapi melambat dari 9,1 persen tahun ke tahun, angka pada bulan Juni, yang merupakan tertinggi dalam empat dekade.

Sementara di Indonesia, dengan kondisi ekonomi global yang masih berada dalam ketidakpastian itu, disebut bisa membuat ekonomi nasional lebih terancam. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menuturkan bahwa ekonomi dunia saat ini tengah bergejolak.

Tidak hanya bergejolak, Perry bahkan menyebut ekonomi dunia bahkan menurun menuju stagflasi atau resesi di berbagai negara. Adapun resesi ini sendiri ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang lambat, statis disertai dengan kenaikan harga atau inflasi.

Perry lantas menyebut keadaan tersebut disebabkan oleh sejumlah faktor, di antaranya adalah dampak dari pandemi COVID-19 yang tak kunjung usai hingga saat ini, sehingga membuat rantai pasok terganggu. Adapun faktor pemicu lainnya adalah konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina turut menyumbang kenaikan inflasi akibat terpangkasnya distribusi energi hingga pangan.


"Harga-harga sangat tinggi, harga energi, harga minyak, dan pangan melambung tinggi di seluruh dunia dan juga suku bunga di berbagai negara maju naik sangat tinggi," beber Perry dalam agenda Kick Off Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan, Rabu (10/8). "Dunia sedang bergejolak, belum lagi geopolitik perang Rusia dan Ukraina."

Sebagaimana diketahui, Rusia dan Ukraina adalah salah satu pemasok tertinggi energi dan pangan global yang mencapai 20 persen. Hal ini lah yang menjadi alasan harga-harga pangan dan energi global naik tinggi ketika dua negara tersebut berkonflik, khususnya dengan adanya sanksi larangan ekspor.

Menurut Perry, dampak dari dunia yang tengah bergejolak itu tidak dirasakan secara langsung, namun Indonesia terkena dampaknya. Maka dari itu, ia menyampaikan bahwa gerakan nasional pengendalian inflasi pangan sangat penting untuk dilakukan agar perekonomian nasional berkembang lebih maju.

Selain itu, kata Perry, harga-harga pangan juga bisa terkendali dan masyarakat menjadi sejahtera. Di sisi lain, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) diketahui juga akan berkolaborasi untuk menekan laju inflasi pangan melalui operasi pasar, salah satunya adalah melalui program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan.

Perry mengatakan hal tersebut dilakukan lantaran mengingat inflasi pangan pada Juli di tahun 2022 ini sempat berada di level 10,32 persen, yang merupakan tertinggi selama tahun berjalan. Ia pun berharap inflasi pangan bisa ditekan di level 6 persen bahkan hingga 5 persen.

(wk/tiar)

You can share this post!

Artikel Terkait