Solo Mulai Uji Coba Kompor Listrik, Warga Ungkap Pendapat Beragam
Pexel/Marcus Aurelius
Nasional
Kompor Gas vs Kompor Listrik

Solo jadi salah satu kota yang sudah memulai uji coba penggunaan kompor listrik induksi dari PLN. Namun warga Solo pun memiliki penilaian berbeda soal penggunaan kompor listrik.

WowKeren - Rencana pemerintah untuk konversi Kompor LPG ke listrik terus menuai pro kontra. Meski begitu, PT PLN (Persero) rupanya telah memulai uji coba penggunaan kompor listrik ke tiga kota, salah satunya Solo. Seribu warga tidak mampu yang rumahnya berdaya listrik 450-900 VA serta UMKM menjadi sasaran uji coba tersebut.

Di Solo, uji coba kompor listrik induksi telah dilakukan. Namun rupanya uji coba konversi kompor LPG ke listrik itu menuai respon positif dan negatif.

Bagi pengusaha kecil, pemakaian kompor listriknya tampaknya tak begitu disukai. Teddy (47), seorang pengusaha angkringan mengaku lebih suka menggunakan kompor gas LPG.

Teddy mengaku tak mungkin menggunakan kompor listrik itu untuk usaha angkringannya. Karena itu, kompor listrik yang diberikan pemerintah hanya ia gunakan untuk masakan sederhana untuk kebutuhan sendiri. Meski begitu, Teddy juga mengaku masih kurang puas dengan hasil masak di kompor listrik.


"Kompornya paling cuma saya pakai buat bikin mi instan sama menggoreng telur. Itu pun untuk menggoreng nggak bisa garing," ungkap Teddy, melansir CNNIndonesia.com.

Sementara itu, alasan utamanya menerima bantuan kompor listrik induksi dari PLN adalah untuk mendapat subsidi listrik. "Dulu kan ditawari kalau mau dapat subsidi harus mau ambil kompor listriknya, ya saya terima," bebernya.

Namun di sisi lain, rumah tangga biasa tampaknya cukup terbantu dengan keberadaan kompor listrik. Indrawati, ibu rumah tangga di Keluragan Mojo, menyebut pengeluaran listriknya berkurang dengan penggunaan kompor listrik.

Sebelumnya, Indrawati yang rumahnya memiliki daya 1.300 VA harus menghabiskan Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu per bulan. Namun kini, setelah mengubah daya ke 900 VA dan mendapat kompor listrik, Indrawati hanya membayar Rp 100 ribu per bulan. Penghematan ini terjadi karena penerima kompor listrik induksi dari PLN juga menjadi penerima subsidi listrik 900 VA.

"Dulu waktu masih 1.300 VA itu beli Rp50 ribu cuma dapat 31 kWH. Sekarang saya beli Rp100 ribu dapatnya 150 kWH," pungkas Indrawati.

(wk/amel)

You can share this post!

Rekomendasi Artikel
Berita Terkait