Ratu Felisha berbagi pengalaman traumatis setelah dua kali gagal menikah dan pentingnya memilih pasangan dengan hati-hati.
- Sabtu, 18 April 2026 - 21:03 WIB
WowKeren - Aktris Ratu Felisha Renatya atau yang lebih dikenal sebagai Ratu Felisha, mengungkapkan kekhawatirannya setelah dua kali gagal dalam pernikahan. Dalam sebuah wawancara, Ratu mengaku bahwa pengalaman tersebut membuatnya merasa trauma dan takut untuk memikirkan masa depan, terutama dalam memilih pasangan. 'Takut untuk memilih yang salah, karena udah dua kali nikah,' ungkap Ratu saat berbincang di Maia AlElDultv.
Dia menambahkan, 'Lumayan (trauma). Bakal cerai lagi enggak? Takutnya itu.' Ratu tidak pernah membayangkan bahwa pernikahannya akan berakhir dengan perceraian, karena menurutnya, tidak ada orang yang berniat untuk bercerai saat memutuskan untuk menikah. 'Maunya yang terakhir. Mana ada orang nikah mau cerai sih,' tuturnya.
Di usianya yang kini mencapai 43 tahun, Ratu Felisha merasa perlu lebih berhati-hati dalam memilih pasangan. 'Umur udah segini, udah 43 (tahun), berarti udah enggak bisa main-main lagi,' ujarnya. Meskipun ia tidak merasa insecure, ia tetap merasa perlu untuk lebih berhati-hati. 'Cuma lebih berhati-hati aja,' tambahnya.
Ratu Felisha pertama kali menikah dengan Franciscus Emmanuel atau Jules Korsten pada tahun 2008. Pernikahan yang berlangsung pada 24 Desember 2008 itu berakhir pada tahun 2012. Dia mengaku menikah karena terburu-buru untuk mencapai target, mengingat saat itu dia berpacaran di usia 23 tahun dan memiliki target untuk menikah di usia 25 tahun.
Setelah empat tahun menjomblo, Ratu kemudian menikah lagi dengan Arie Pujianto pada tahun 2016. Pernikahan ini dimulai setelah Arie melamarnya sebulan setelah mereka berkenalan, yang berawal dari jodohan teman. Namun, pernikahan keduanya juga tidak bertahan lama dan berakhir dengan perceraian pada tahun 2020, di mana Arie menggugat cerai Ratu ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan.
Dari kedua pernikahan tersebut, Ratu Felisha tidak dikaruniai anak. Meski demikian, ia sudah memiliki anak adopsi jauh sebelum menjalani kedua pernikahan tersebut. Pengalaman yang dialaminya mempengaruhi pandangannya tentang pernikahan dan pasangan hidup di masa depan.
(wk/timw)