Berbeda dengan Dr. Khiyami yang dibatalkan Kerajaan Inggris karena krisis di Suriah, Pangeran Naruhito dan istrinya Putri Masako memilih tidak hadir karena tsunami Jepang.
- Tim WowKeren
- Jumat, 29 April 2011 - 15:24 WIB
WowKeren - Pihak kerajaan Inggris telah membatalkan undangan bagi Duta Besar Suriah, Dr. Khiyami. Pasalnya, negara di Timur Tengah itu tengah mengalami isu politik yakni terjadi perang sipil antara demonstran pro demokrasi dan pemerintah Suriah. Hampir 400 orang lebih telah tewas akibat konflik tersebut. Dengan permasalahan yang melanda Suriah, pihak istana merasa tak pantas jika mengundang Duta Besar Khiyami untuk merayakan pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton di Gereja Westminster Abbey, Jumat 29 April.
"Undangan tersebut sama sekali bukanlah tanda persetujuan atau dukungan bagi perilaku yang dilakukan oleh suatu negara, sederhananya, kami punya hubungan diplomasi yang baik dengan negara tersebut," demikian pernyataan dari Parlemen Inggris, seperti dilansir dari BBC. "Berkaitan dengan serangan pada masyarakat sipil yang dilakukan oleh petugas keamanan dari pemerintah Suriah, yang mana sangat kami kutuk, sekretaris parlemen telah memutuskan kalau kehadiran Duta Besar Suriah di Royal Wedding tak akan bisa diterima dan dia sebaiknya tidak hadir. Buckingham Palace sepakat dengan Parlemen dan merasa tak pantas jika Duta Besar Suriah hadir di pernikahan itu."
Dr. Khiyami mengaku kalau pembatalan tersebut telah membuatnya malu karena ia sebelumnya belum memastikan untuk hadir. Meski demikian, ia memahami alasan tersebut dan mendoakan yang terbaik bagi pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton tersebut.
"Saya tak memahami keputusan itu tapi saya mengerti alasan dari keputusan itu dan pengaruhnya bagi media," kata Dr. Khiyami. "Mempelai pria dan wanita memang perlu agar pernikahan mereka tidak terganggu karena alasan apapun."
Selain Duta Besar Suriah, Pangeran Naruhito dan istrinya Putri Masako dari Jepang juga tak bisa hadir. Hal ini berkaitan dengan musibah gempa dan tsunami Jepang yang terjadi 11 Maret lalu.
(wk/)