Meraih kesuksesan lewat sejumlah programnya akhir-akhir ini, apa rahasia ANTV?
- Tim WowKeren
- Senin, 18 September 2017 - 18:55 WIB
WowKeren - Akhir-akhir ini ANTV acapkali sukses meraih rating tertinggi diantara stasiun televisi lainnya. Bukan hanya karena serial India, sejumlah program ANTV yang lain juga sukses menarik perhatian pemirsa.
Sebut saja "Pesbukers" atau sejumlah sinetron lokal yang mampu meraih rating tinggi seperti "Jodoh Wasiat Bapak", "Kecil-Kecil Jadi Manten" dan "Cantik-Cantik Kucing Dapur". Program-program acara tersebut nyatanya mampu membuat pemirsa tak beranjak dari ANTV.
Kesuksesan ANTV ini tak lepas dari tangan dingin sang Vice President, Otis Hahijary. Otis mengaku rahasia di balik kesuksesan ANTV adalah selalu berusaha untuk melakukan inovasi.
"Kami beranjak dengan serial India di tahun 2013 dan sukses. Tapi enggak bosan, ya identik dengan India? Enggak tergelitik, ya membuat sesuatu yang baru," ujar Otis Hahijary seperti dilansir TabloidBintang. "Saya cambuk tim saya. Ayo dong sekarang bikin yang lokal."
Salah satu terobosan yang mendongkrak rating ANTV adalah tayangan "Pesbukers" saat Ramadhan. "Saya juga memindahkan Pesbukers ke slot prime time. Di bulan Ramadan itu kami punya 2 slot prime time yaitu saat sahur dan buka. Itulah kebangkitan ANTV lagi," ungkapnya.
Awalnya, para bintang India ini sebenarnya direncanakan untuk membintangi "Cinta di Pangkuan Himalaya". Namun karena sinetron itu gagal, maka Otis memutar otak dan memutuskan mentransfer mereka ke "Pesbukers".
"Ini seperti sudah jalan Tuhan. Pesbukers naik berkat 5 bintang India itu, yang sebenarnya untuk 'CDPH'. Yang jelas buat saya, tidak boleh sejenis dengan sinetron televisi pesaing. Saat CDPH tayang, televisi kompetitor menayangkan drama dengan genre sejenis," tuturnya. "Jadi pelajarannya, enggak bisa tuh masuk dengan genre yang sama dengan televisi lain di slot prime time pula."
Hingga saat ini Otis masih tak berhenti melakukan inovasi agar ANTV bisa terus menjadi stasiun TV terdepan. "Jangan pernah cepat puas. Orang Indonesia harus dimarah-marahi dulu baru beres. Merasa sudah bagus, nomor 1, enggak cari elemen baru lagi. Jadi harus dicambuk terus untuk tetap berinovasi," pungkasnya.
(18:57) raysa: masuk ka?
(wk/)