Selain Tsunami Selat Sunda, BNPB Sebut 2 Bencana Langka Ini Juga Terjadi Sepanjang 2018
Twitter/Sutopo_PN
Nasional

Bencana-bencana langka tersebut menimbulkan korban jiwa dan kerugian material yang tidak sedikit.

WowKeren - Siapapun tak menyangka jika wilayah Selat Sunda bakal diterjang ombak tinggi yang meluluh lantahkan daratan di sekitarnya. Tsunami yang melanda Selat Sunda pada Sabtu (22/12) lalu memiliki ketinggian ombak yang bervariasi, yakni sekitar 2-5 meter.

Yang lebih mengejutkan lagi, tsunami ini datang tanpa didahului dengan peringatan gempa. Tentu saja hal tersebut membuat masyarakat tidak sempat melakukan evakuasi. Boleh dibilang, peristiwa tsunami di Selat Sunda merupakan bencana langka yang terjadi di Indonesia.

Tsunami pada umumnya disebabkan oleh pergeseran lempeng tektonik sehingga menimbulkan getaran gempa yang kemudian disusul oleh ombak tinggi yang menuju ke daratan. Dalam kasus tsunami Selat Sunda, tidak ada pergeseran lempeng tektonik, namun erupsi vulkanik lah yang menyebabkan longsor di lereng Gunung Anak Krakatau.

Ternyata tsunami Selat Sunda bukan satu-satunya bencana langka yang terjadi di Indonesia. Sepanjang 2018, ada dua bencana tak biasa yang tercatat yakni gempa bumi beruntun di wilayah Nusa Tenggara Barat serta gempa bumi di Sulawesi Tengah yang disusul tsunami dan likuifaksi.

Gempa bumi terjadi secara beruntun di wilayah Lombok dan Sumbawa beberapa waktu lalu. Bencana ini menyebabkan sedikitnya 546 orang meninggal.


Pusat Survei Geologi menyatakan bahwa gempa beruntun ini disebabkan oleh aktivitas sesar yang naik di bagian utara Pulau Lombok. Gempa bumi utama terjadi pada 29 Juli dan 5 Agustus 2018. Keduanya masih berada pada segmen bidang patahan yang sama.

Selanjutnya gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Donggala dan Kota Palu pada September 2018. Gempa yang memiliki kekuatan getaran 7,4 magnitudo tersebut menyebabkan adanya fenomena likuifaksi atau tanah bergerak.

Bahaya yang mungkin terjadi akibat adanya likuifaksi ini adalah amblesnya bangunan ke dalam tanah. Sebab, kandungan air dalam tanah keluar sehingga tanah memadat dan permukaannya menurun.

Peristiwa likuifaksi ini hanya terjadi empat menit setelah gelombang tsunami menyapu. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa likuifaksi ini merupakan yang terbesar di dunia.

“Gempa memicu tsunami yang tiba sangat cepat,” terang Sutopo di Jakarta Timur pada Selasa (25/12). “Hanya dalam waktu empat menit lalu terjadi likuifaksi yang merupakan peristiwa terbesar di dunia.”

Dari tiga bencana tersebut, gempa bumi di Sulawesi Tengah merupakan bencana dengan jumlah korban jiwa terbanyak, yakni 2.101 orang meninggal dan 1.373 orang hilang. Adapun kerugian ekonomi yang diderita mencapai Rp 18,47 triliun.

(wk/wahy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait