Aktivitas erupsi yang semakin intens membuat status Gunung Anak Krakatau naik ke level III Siaga.
- Wahyu
- Kamis, 27 Desember 2018 - 11:37 WIB
WowKeren - Erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung hingga saat ini. Status Gunung Anak Krakatau sendiri dikatakan masih berada di level II Waspada hingga beberapa hari pasca gelombang tinggi tsunami menerjang daratan sekitar Selat Sunda.
Hingga pada Kamis (27/12) pagi status gunung ini dinaikkan menjadi level III Siaga. Suara gemuruh yang ditimbulkan dari aktivitas vulkanik masih terdengar hingga ke bibir Pantai Carita yang ada di Pandeglang.
Peningkatan status ini berdasarkan pada aktivitas gunung yang semakin intens. Petugas Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau, Windi Cahya Untung, menyatakan bahwa getaran terjadi secara terus-menerus. Dari rekaman amplitudo 8-32 Mm, getaran tersebut dominan di angka 25.
“Terdapat getaran tremor menerus mikrotremor yang terekam dengan amplitudo 8-32 Mm,” kata Windi Cahya dilansir Republika.co.id pada Kamis (27/12). “Dominan di angka 25 Mm.”
Meski demikian, Windi menuturkan pihaknya masih belum mendapatkan data visual gunung akibat cuaca yang tidak bersahabat. Cuaca yang mendung dan hujan serta angin ke arah utara dan timur laut tidak memungkinkan upaya pengambilan gambar.
“Cuaca mendung dan hujan,” tambah Windi. “Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan timur laut. Suhu udara 24-26 derajat Celsius dan kelembaban udara 91-96 persen.”
Untuk alasan keamanan, warga dan wisatawan diminta untuk tidak mendekati kawah dalam radius lima kilometer. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumer Daya Mineral (ESDM) dalam situs resminya meminta warga untuk menjauhi pulau-pulau di sekitar Anak Krakatau.
“Masyarakat tidak diperbolehkan mendekati G. Krakatau dalam radius 5 km dari kawah,” tulis Badan Geologi pada Kamis (27/12). “Yaitu di dalam kompleks Krakatau yang dibatasi oleh P. Rakata, Pulau Sertung dan P. Panjang.”
Sebelumnya, pihak BMKG juga sempat mengimbau warga untuk menjauhi bibir pantai sejauh satu kilometer pada Selasa (25/12). Hal tersebut dikarenakan cuaca ekstrem dan gelombang laut yang tinggi dapat memicu terjadinya tsunami susulan.
Sejak Rabu (26/12) sore, Gunung Anak Krakatau terpantau menyemburkan awan panas setinggi 500 meter. Awan panas ini kemudian bergerak menuju ke arah selatan. Selain itu, warga yang ada di Serang dan Cilegon juga terkena imbas hujan abu dan pasir tipis.
Sehubungan dengan kenaikan status Anak Krakatau, Badan Geologi juga mengimbau masyarakat untuk menyiapkan masker guna mengantisipasi terjadinya hujan abu. Warga juga diminta untuk tidak mempercayai isu sesat terkait erupsi Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami.
(wk/wahy)