Di malam hari, aktivitas erupsi terlihat semakin jelas. Warga yang ada di Lampung Selatan juga bisa merasakan getarannya.
- Wahyu
- Sabtu, 29 Desember 2018 - 10:40 WIB
WowKeren - Pasca erupsi yang menyebabkan gelombang tsunami di Selat Sunda pada Sabtu (22/12) pekan lalu, frekuensi aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau lebih tinggi. Aktivitas erupsi ini bahkan terjadi ratusan kali dalam sehari.
Hal tersebut diungkapkan oleh salah seorang warga Desa Way Muli Timur, Lampung Selatan. “Kalau berapa kalinya saya enggak ngitung,” kata warga tersebut dilansir Antara pada Sabtu, (29/12). “Tapi ada ratusan kali dalam sehari.”
Letusan Anak Krakatau lebih banyak didengar pada malam hari. Aktivitas erupsi yang terus-menerus membuat abu vulkanik tak henti-hentinya menyembul dari puncak gunung. Bahkan, kepulan abu vulkanik yang membumbung tinggi menutupi hampir sebagian besar tubuh Anak Krakatau.
Berdasarkan penuturan warga, di malam hari aktivtas erupsi terlihat lebih jelas. Bahkan disertai dengan gemuruh petir. “Kalau malam kelihatan jelas, sampai ada kilatan petirnya” sambung warga tersebut.
Meskipun abu vulkanik yang dikeluarkan cukup banyak, namun nyatanya sebaran debu ini belum sampai ke Lampung Selatan. Namun, getaran yang ditimbulkan saat erupsi bisa dirasakan warga, seperti ikut bergetarnya kaca rumah.
“Kalau debu belum, mungkin karena anginnya juga ke arah sana (barat),” tutur warga. “Tapi kalau getarannya terasa seperti kaca rumah bisa bergetar akibat erupsi yang dikeluarkan Anak Krakatau.”
Anak Krakatau diketahui kembali aktif melakukan erupsi sejak pertengahan 2018 lalu. Kepulan abu yang ditimbulkan tingginya mencapai sekitar seribu meter kala itu. Beberapa bulan setelahnya, muncul lava pijar dan dentuman keras yang ditimbulkan akibat aktivitas tersebut. Namun, statusnya masih tetap berada di level II Waspada.
Sekitar November 2018, erupsi yang terjadi semakin intens. Erupsi tersebut disertai dengan lontaran material berupa lava pijar. Hingga pada Sabu (22/12) pekan lalu, aktivitas erupsi ini menyebabkan longsor di dinding gunung sehingga menimbulkan gelombang tsunami.
Puncaknya, pada Kamis (27/12) Desember Badan Meteorologi dan Geofisika menaikkan status Anak Krakatau dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga. Hal ini didasarkan pada aktivitas vulkanik yang semakin tinggi. Warga bahkan diimbau untuk menjauh di radius lima kilometer.
(wk/wahy)