Bencana tsunami Selat Sunda tak hanya merenggut ratusan korban jiwa, tapi juga menelan banyak harta benda.
- Bertilia Puteri
- Sabtu, 29 Desember 2018 - 11:07 WIB
WowKeren - Tsunami yang menerjang Selat Sunda pada Sabtu (22/12) lalu memang meninggalkan bekas luka bagi banyak orang. Tak hanya nyawa yang melayang, harta benda para korban bencana pun harus hilang tertelan ombak.
Hal tersebut dirasakan seorang warga Pantai Caringin bernama Ati. Ia menceritakan bagaimana bencana tsunami tersebut menghancurkan mata pencahariannya sebagai seorang penjaja kopi.
"Kan lagi jualan, jadi tempat usaha saya itu tepat menghadap ke pantai," terang Ati dilansir dari detik.com, Jumat (28/12). "Saya lagi begadang, membuat gorengan. Lalu warga itu berseru, 'Ayo-ayo ada ombak'. Ombak itu tampak setara dengan Gunung Krakatau."
Mendapat peringatan dari warga, Ati langsung menyelematkan diri bersama keluarganya. Ia, suami, dan kedua anak mereka langsung mengendarai motor ke tempat yang lebih aman. Karena terburu-buru, Ati tak sempat menyelamatkan harta bendanya.
Esoknya, Ati pun kembali ke tempat tinggal sekaligus usahanya. Ia harus menghadapi kenyataan pahit karena semuanya sudah rata dengan tanah.
Sejak kejadian tersebut, Ati mengaku trauma kala melihat ombak. Padahal selama tinggal di Pantai Caringin, ombak besar setiap tahun adalah hal yang biasa bagi Ati.
Meski demikian, Ati tetap bersyukur seluruh anggota keluarganya selamat. Ia juga mensyukuri tempat pengungsiannya di SDN Kalanganyar 1 Labuan dirasa cukup nyaman.
Sebelumnya, Ati mengaku sudah dua kali pindah tempat pengungsian. Ia pindah dari tempat sebelumnya karena dirasa tidak nyaman.
"Pindah saya, kebetulan yang dapat di sini," ujar Ati. "Terjamin di sini."
Ati juga menjelaskan bahwa ia dan pengungsi lainnya telah menerima banyak bantuan, mulai dari selimut, baju, hingga makanan. Ia pun mengungkapkan rasa terima kasihnya pada pihak-pihak yang sudah menyumbang.
"Saya sebagai pengungsi berterima kasih kepada pihak yang sudah membantu," tutur Ati. "Sampai saya dan pengungsi lain merasa kebutuhannya tercukupi tanpa kekurangan apapun."
Meski merasa nyaman di tempat pengungsiannya yang sekarang, Ati mengaku cemas akan nasibnya ke depan. Apalagi harta benda Ati sudah ludes tertelan gelombang tsunami. Oleh sebab itu, Ati berharap pemerintah memerhatikan nasib para pengungsi, termasuk menyediakan mata pencaharian.
(wk/Bert)