Diameter Anak Krakatau lebih kecil sehingga jika terjadi letusan, tidak akan sedahsyat Krakatau pada 1883.
- Wahyu
- Sabtu, 29 Desember 2018 - 11:52 WIB
WowKeren - Meskipun bencana tsunami yang melanda Selat Sunda sudah berlalu selama sepekan, namun kepanikan masyarakat masih belum usai. Bagaimana tidak, erupsi Gunung Anak Krakatau, yang menjadi sebab naiknya gelombang air laut ke daratan, hingga kini masih terus berlangsung.
Tak sedikit warga yang khawatir jika bencana Krakatau yang terjadi pada 1883 silam akan terulang kembali. Letusan itu merupakan salah satu yang paling dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah dunia.
Dampak letusan serta tsunami yang ditimbulkannya memakan lebih dari 36 ribu korban jiwa. Bahkan, dampak letusan ini bisa dirasakan hampir di seluruh penjuru dunia.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa jika Anak Krakatau meletus, kemungkinan letusannya tidak akan sedahsyat Krakatau yang erupsi pada 1883.
Hal tersebut disebabkan karena diameter Anak Krakatau relatif lebih kecil, yakni hanya 12 kilometer. Begitu juga dengan dapur magma di dalamnya, juga lebih sempit dibanding Krakatau. Sehingga, jika terjadi erupsi kemungkinan tidak akan menyebabkan tsunami besar seperti yang terjadi tiga dekade silam.
“Sangat kecil, diameternya hanya 12 kilometer,” kata Sutopo di Jakarta Timur, Jumat (28/12). “Dapur magmanya kecil, kemungkinan terjadinya erupsi tidak akan menyebabkan bencana besar juga tidak akan ada tsunami yang besar seperti 1883.”
Saat ini, Anak Krakatau masih aktif melakukan erupsi. Beberapa daerah di sekitarnya juga ikut terdampak akibat aktivitas ini, seperti Banten, Tanggamus, dan Lampung Selatan.
Sutopo menambahkan bahwa Anak Krakatau meletus setiap menit. Meski demikian, ia menuturkan bahwa menetapkan peringatan dini menjadi kewenangan pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
“Hampir setiap menit terjadi letusan. Masyarakat di daerah terdampak, Banten, Tanggamus, Lampung Selatan,” jelas Sutopo. “Namun yang berwenang menetapkan peringatan dini, gunung api kewenangan PVMBG.”
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan waspada. Sutopo meminta agar warga tidak mudah terpancing dengan informasi sesat untuk menghindari kepanikan. "Masyarakat harap tenang dan tidak terpengaruh dengan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan," lanjut Sutopo.
(wk/wahy)