BMKG Catat Aktivitas Gempa di Indonesia Meningkat Drastis Sepanjang 2018
Nasional

Adanya gempa utama yang diikuti serangkaian gempa susulan membuat jumlah gempa tercatat lebih banyak.

WowKeren - Bencana demi bencana datang silih berganti melanda Bumi Pertiwi. Di penghujung tahun 2018, Indonesia berduka akibat tsunami yang menerjang dataran Selat Sunda Sabtu (22/12) belum lama ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa aktivitas gempa di Indonesia meningkat drastis selama 2018. Di tahun ini, tercatat sebanyak 11.577 kali gempa, yang mana jumlah ini jauh lebih tinggi dari tahun 2017 yang hanya 6.929 kali.

Jumlah tersebut meliputi seluruh gempa yang terjadi di wilayah Indonesia dengan berbagai magnitudo dan kedalaman. Empat ribu di anataranya merupakan gempa yang disebabkan oleh aktivitas lempeng tektonik.

“Artinya, selama tahun 2018 telah terjadi peningkatan jumlah aktivitas gempa yang drastis di Indonesia,” kata Rahmat Triyono selaku Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG dilansir Liputan6.com pada Sabtu (29/12). “Yaitu 4.648 kejadian gempa tektonik.”

Berdasarkan kekuatan magnitudonya, Gempa yang terjadi digolongkan menjadi lima kategori, yakni kecil (M<4,0), ringan (m=4,1-5,0), menengah (m=5,1-6,0), kuat (m=6,1-7), dan besar (m=7,1-8,0). dari jumlah tersebut, yang paling mendominasi adalah gempa kecil, yakni sebanyak 9.081 kali.


Rahmat mengatakan bahwa gempa besar hanya terjadi sekali yakni Gempa Palu pada September lalu. Sedangkan untuk gempa dahsyat tidak ada.

“Dan gempa besar dengan magnitudo antara 7,1-8.0 hanya terjadi 1 kali, yaitu Gempa Palu 28 September 2018 (M=7,5),” tambah Rahmat. “Serta gempa dahsyat (kekuatan antara 8,1 - 9,0) selama tahun 2018 tidak terjadi di wilayah Indonesia.”

Banyaknya gempa yang terjadi disebabkan oleh adanya gempa kuat yang diikuti sejumlah gempa susulan. Selain itu, aktivitas gempa swarm di Sulawesi Barat juga ikut menyumbang jumlah gempa yang cukup banyak.

“Tingginya aktivitas gempa bumi di Indonesia selama tahun 2018 tersebut,” tambah Rahmat. “Disebabkan karena adanya beberapa gempa kuat dan diikuti rangkaian gempa susulan yang banyak.”

Jumlah aktivitas gempa yang merusak juga lebih banyak terjadi di tahun 2018, yakni ada 23 kali. Sedangkan di tahun 2017 hanya terjadi 19 kali.

“Jika pada 2017 hanya terjadi gempa merusak sebanyak 19 kali, maka pada tahun 2018 telah terjadi 23 kali,” ujar Rahmat. “Sehingga ada peningkatan jumlah aktivitas gempa merusak di Indonesia.”

(wk/wahy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait