Polisi menuturkan bahwa peristiwa perobekan tersebut tak lain hanyalah kesalah pahaman belaka.
- Wahyu
- Rabu, 02 Januari 2019 - 10:29 WIB
WowKeren - Relawan paslon nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, yang ada di Lombok bersitegang dengan aparat kepolisian. Hal itu bemula ketika anggota polisi mendatangi Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi dan merobek kertas di meja.
Hal tersebut diungkapkan oleh Koordinator Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi, Lieus Sungkharisma. Ia sangat mengecam perbuatan tersebut dan meminta kapolri menindak lanjuti bawahannya itu.
“Saya tidak hanya menyesalkan dan mengecam keras tindakan kepolisian tersebut, tapi juga meminta kapolri menindak bawahannya tersebut,” kata Lieus dilansir viva.co.id pada Rabu (2/1). “Sebab, bila dibiarkan dan tidak dilanjutkan, tindakan aparat kepolisian NTB ini seolah-olah restu dari atasan.”
Menanggapi hal tersebut, Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol Komang Suartana, menerangkan bahwa kedatangan anggota polisi ke Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi yang ada di depan Islamic Center Mataram merupakan patroli keamanan. Sehingga, ia menilai bahwa hal itu hanya salah paham belaka.
“Kami rasa ini hanya salah paham,” kata Komang dilansir viva.co.id pada Rabu (2/1). “Personel polisi saat itu sedang melakukan patroli di Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi di depan Islamic Center Mataram.”
Menjelang pemilu, polisi memang dikerahkan untuk bertugas menjaga keamanan. Para personel kepolisian tersebut tergabung dalam Satuan Tugas Operasi Mantap Brata (Satgas OMB).
Komang juga menjelaskan bahwa polisi tak hanya mendatangi Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi, tapi juga kantor KPU dan Bawaslu. Selain itu, kantor-kantor politik lain yang ada di naungan hukum Polda NTB juga menjadi wilayah patroli tersebut.
Labih lanjut, Komang meminta maaf jika memang ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan kedatangan polisi di rumah aspirasi itu. Terkait insiden perobekan kertas, ia menerangkan bahwa anggotanya hanya ingin mencatat sesuatu dan dirobeklah kertas yang ada di atas meja.
“Kalau ada yang tersinggung dan merasa tidak nyaman dengan kegiatan patroli yang dilakukan polisi di tempat tersebut, kami minta maaf,” ujar Komang. “Anggota menerima telepon dan mencatat catatan penting lalu karena tidak ada kertas, digunakanlah buku yang ada di meja. Itu pun sudah minta izin sebelumnya kepada salah satu pengurus di sana.”
(wk/wahy)