Menurut tim Jokowi, undangan baca Alquran adalah cara masyarakat Aceh mengoreksi pihak-pihak yang kerap mengangkat isu agama ke kancah politik.
- Wahyu
- Rabu, 02 Januari 2019 - 11:44 WIB
WowKeren - Kampanye dua pasangan calon capres-cawapres, Joko Widodo alias Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno semakin memanas. Suasana semakin pelik ketika Ikatan Dai Aceh melayangkan undangan tes baca Alquran bagi kedua paslon.
Dua kubu memberikan respons yang berbeda. Kubu Jokowi menyambut baik undangan tersebut. Sedangkan kubu Prabowo menilai hal semacam ini tidaklah perlu. Alasan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi berkata demikian adalah karena pihaknya menilai membaca Alquran tidak tertulis dalam syarat capres dan caapres.
Juru Debat BPN, Sodik Mujahid, mengatakan bahwa hal lebih penting yang harus dikuasai oleh paslon adalah mengamalkan isi Alquran secara demokratis dan konstitusional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Meskipun begitu, pihaknya tetap menghargai undangan tersebut.
“Prinsip itu yang lebih penting bukan hanya mampu membacanya dalam Bahasa Arab,” kata Sodik dilansir viva.co.id Rabu (2/1). “ Tapi, kita hormati dan hargai atas ide dari Ikatan Dai Aceh.”
Argumen-argumen yang dikeluarkan oleh kubu Prabowo membuat kubu Jokowi curiga. Sebab menurutnya, jika memang tidak ada masalah Prabowo-Sandi seharusnya bisa menghadiri undangan tersebut. Juru bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Inas Nasrullah Zubir, menilai kubu Prabowo selalu panik setiap isu ritual Islam diangkat dalam Pilpres.
“Kubu Prabowo tiba-tiba panik dan mulas begitu mendengar wacana yang digulirkan Ikatan Dai Aceh,” kata Inas dilansir viva.co.id pada Rabu (2/1). “Kenapa kubu Prabowo selalu panik ketika setiap acara ritual Islam dimunculkan dalam pilpres.”
Reaksi yang sama juga dilontarkan oleh Sekretaris TKN Jokowi-Ma’ruf, Hasto Kristiyanto. Menurutnya, undangan membaca Alquran merupakan cara masyarakat Aceh mengoreksoi pihak-pihak yang mengangkat isu agama dalam berpolitik.
“Karena selama ini mereka yang menggunakan isu agama dengan adanya semacam haymaker punch, kata Hasto di Menteng, Jakarta Pusat pada Minggu (30/12). “Ternyata mules betul perutnya dan kemudian mengajak kembali pada konstitusi.”
Hasto berharap agar dari sini sudah tidak ada lagi pihak-pihak yang memanfaatkan isu agama untuk menarik simpati publik. Sebaliknya, semua harus mengacu pada konstitusi yang ada.
(wk/wahy)