Mayarakat diimbau untuk tidak mudah percaya isu sesat terkait info kebencanaan.
- Wahyu
- Rabu, 02 Januari 2019 - 14:39 WIB
WowKeren - Kepanikan masih dirasakan oleh warga sekitar Selat Sunda dan Lampung. Bagaimana tidak, kondisi Gunung Anak Krakatau yang belum stabil sewaktu-waktu berpotensi memunculkan bencana seperti tsunami Selat Sunda belum lama ini.
Di tengah kepanikan masyarakat, ada saja oknum yang iseng membuat kegaduhan dengan menyebar berita sesat. Baru-baru ini viral rekaman audio berdurasi satu setengah menit yang memberitahukan bahwa akan terjadi gempa berskala 8 SR di Lampung dalam waktu dekat. Sontak rekaman ini membuat masyarakat semakin cemas.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengklarifikasi bahwa rekaman tersebut adalah hoaks. Melalui akun Instagram resmi miliknya, BMKG menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengeluarkan pernyataan semacam itu.
Pihak BMKG juga mengimbau pada masyarakat untuk tidak mudah percaya serta menyebarluaskan berita yang belum pasti kebenarannya, terutama yang terkait bencana semacam ini. Sebab, hal itu dapat memancing keresahan di masyarakat.
“BMKG tidak pernah memberikan pernyataan tersebut,” kata BMKG lewat keterangan tertulis di akun Instagram resminya. “Dan diimbau kepada masyarakat jika mendapat broadcast terkait audio tersebut untuk tidak menyebarluaskannya.”
Bagi masyarakat yang memiliki rekaman tersebut, sebaiknya segera menghapusnya. Hal ini dimaksudkan agar tidak menjadi sumber kegaduhan di masyarakat. “Dan langsung saja dihapus agar tidak kembali membuat resah masyarakat,” tutup BMKG.
Hingga saat ini, pihak BMKG sendiri masih memantau aktivitas Anak Krakatau. Memang beberapa hari lalu aktivitas erupsi dilaporkan sudah menurun, namun belum diketahui secara pasti apakah akan benar-benar berhenti total.
Berdasarkan data terbaru, pihak BMKG menemukan retakan di Anak Krakatau. Retakan tersebut terihat ketika tim BMKG memantau kondisi gunung lewat udara. Retakan ini berpotensi menimbulkan longsor.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan bahwa jika terjadi tsunami susulan, kemungkinan tidak sebesar yang kemarin. Oleh sebab itu, ia mengimbau masyarakat untuk menjauh lima ratus meter dari bibir pantai.
“Jika ada potensi tsunami, tentu harapannya tidak seperti yang kemarin,” kata Dwikorita di Posko Terpadu Tsunami Selat Sunda, Pandeglang pada Selasa (1/1). “Namun, kami meminta masyarakat untuk waspada saat berada di zona 500 meter di sekitar pantai.”
(wk/wahy)