Erick Thohir Tepis Anggapan Jokowi Panik karena Elektabilitas Tak Kunjung Naik
Instagram/erickthohir
Nasional

Erick Thohir menegaskan bahwa selisih elektabilitas Jokowi dengan Prabowo masih berkisar di angka 20 persen.

WowKeren - Dalam kampanye, elektabilitas adalah salah satu patokan penting untuk memenangkan gelaran Pilpres. Semakin besar elektabilitas suatu Paslon, maka semakin besar pula peluang yang dimilikinya untuk mendapatkan suara rakyat.

Belum lama ini perubahan gaya pidato Capres Joko Widodo alias Jokowi menjadi sorotan, terutama oleh pihak lawan. Gaya pidato yang dinilai sedikit "ofensif" dikait-kaitkan dengan elektabilitas Jokowi yang tak kunjung naik.

Namun, anggapan tersebut ditepis oleh Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Erick Thohir. Erick membantah jika elektabilitas Jokowi-Ma'ruf dikatakan semakin mengecil. Sebab, hal itu tidak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan.

Erick yakin bahwa selisih elektabilitas antara Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandiaga masih berkisar di angka 20 persen. Meski ada lembaga yang memberikan hasil survei berbeda terkait perolehan elektabilitas, Erick tetap mengedepankan hasil survei lembaga yang diakui oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

"Kita harus lihat track record. Kita harus berkaca pada lembaga survei yang asosiasinya masuk ke KPU," kata Erick di Jakarta, Rabu (6/2). "Jadi lembaga survei yang diakui KPU itu memberi data kedua Paslon itu bedanya masih 20 persen."


Oleh sebab itu, Erick heran jika ada pihak yang menganggap bahwa Jokowi mulai panik karena masalah elektabilitas. "Intinya, kalau dikatakan Jokowi panik karena survei, jawabannya tidak," ujar Erick.

Terkait tudingan bahwa Jokowi akhir-akhir ini bersikap "ofensif", hal itu ternyata sudah pernah dibicarakan. Erick mengatakan bahwa sudah saatnya bagi Jokowi untuk bersikap demikian. Dalam hal ini, yang dimaksud adalah bahwa Jokowi-Ma'ruf sering dilaporkan ke Bawaslu tanpa berangkat dari data dan fakta yang akurat.

"Jadi saya katakan," tutur Erick. "Sudah selayaknya tim hukum kita 'ofensif' melaporkan dengan fakta dan data."

Erick mengatakan jika dalam pidatonya Jokowi terkesan menyerang kubu lawan, maka hal itu adalah lumrah. Sebab, Erick menilai bahwa jika Jokowi bersikap diam justru secara tidak langsung akan membuat publik berpikir bahwa fitnah dan tuduhan negatif yang dilayangkan kepadanya adalah benar.

"Jadi kalau sekarang beliau menjawab, itu lumrah. Sebab kalau tak menjawab, nanti fitnah itu dianggap benar," terang Erick. "Anehnya, ketika beliau menjawab, dikatakan beliau panik dan ketakutan. Justru beliau sedang menyampaikan data dan fakta, yang selama ini diputarbalikkan."

(wk/wahy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait